Demo, Musik dan Cinta

Demo merupakan lambang kedaulatan mahasiswa yang membuat mereka merasa ‘eksis’. Demo sebagai panggung ‘kita’ dan gerakan ‘kita’,

Demo, Musik dan Cinta
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi memenuhi jalan di sekitar gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (24/9/2019). Demonstrasi tersebut lanjutan dari aksi sebelumnya yang menolak revisi UU KPK, RKUHP, RUU Pertanahan, dan Minerba. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Demo merupakan lambang kedaulatan mahasiswa yang membuat mereka merasa ‘eksis’. Demo sebagai panggung ‘kita’ dan gerakan ‘kita’, didengungkan dengan rasa bangga ke mana-mana. Mereka berhak melakukannya. Itu memang hak mahasiswa. Bagi mereka, di muka bumi ini tak ada urusan lebih mulia, lebih menggairahkan, daripada demo. Dan demo.

Baca: Jokowi, Puaskan Parpol atau Mahasiswa? * Serba Salah Hadapi Revisi Undang-undang KPK

Ada suatu latar belakang kehidupan mahasiswa yang kita abaikan. Mereka bosan di kampus. Tanpa demo, hidup hanya beku. Hari-hari berlalu begitu teknis, monoton, dan bikin bosan itu tadi. Kuliah demi kuliah, dalam jurusan apa pun, yang hanya mengulang-ulang definisi, tak mampu membuat jiwa mahasiswa bergolak. Mereka dibuat merasa, hidup ini sudah jadi dan tinggal menjalani.

Ini penghinaan eksistensial yang memalukan. Mereka berteriak: Jangan jejali aku dengan definisi. Beri aku uraian empirik dan pemikiran imaginatif yang merangsang. Dan aku akan mampu, jangan khawatir, merumuskan sendiri definisi yang lebih baik dari yang ada di buku-buku, yang diulang-ulang para dosen sebagai ritus akademis yang membunuh gairah bertanya.

Mahasiswa merasa, mereka dilahirkan di dunia ini untuk bertanya. Tapi mengapa jejalan definisi, terus menerus, dianggap jawaban? Mereka menyadari, ternyata kampus bukan tempat belajar.

Romantisme Soe Hok Gie tentang demo, musik dan cinta, jauh lebih mampu membangkitkan minat mereka. Mungkin, ini jawaban yang mereka nantikan. Soe Hok Gie lalu menjadi ikon bagi mahasiswa pergerakan sejati. Dan ukuran standar moral mereka pula. Kemudian mereka pun bicara kemurnian politik dalam demo.

Mereka tak memihak golongan manapun. Mereka tak tergiur pengaruh politik apa pun. Mereka bergerak karena mereka harus bergerak. Mereka memiliki ukuran politik sendiri: politik hati nurani.

Demo mereka murni seperti embun pagi. Dan kemurnian politik itu dijaga. Mereka berkata: kita merdeka dan otonom. Inilah barisan kita. Inilah demo kita.
Imajinasi tentang demo, musik dan cinta tidak cukup.

Baca: Minta Perlindungan Australia: Ini Kekhawatiran Veronica Koman

Catatan penyair Taufiq Ismail dalam sebuah puisinya yang diinspirasi dari pengalaman demo mahasiswa Angkatan 1966 perlu dibaca agar semangat memandang diri sendiri suci murni itu memiiki landasan faktual yang mencukupi.Mereka perlu menyadari bahwa dalam setiap perjuangan, kata penyair tersebut, selalu ada pengkhianatan.

Mahasiswa perlu pula menyadari bahwa sebuah demo yang kelihatannya begitu ‘solid’ , kompak dan jelas memperjuangkan aspirasi politik yang sama, bisa saja berakhir pedih.

Mahasiswa bisa dibuat kecewa karena ternyata demo itu menyimpang dari aspirasi perjuangan mereka. Tiba-tiba baru disadari, ada kepentingan politik lain yang telah merasuki barisan mereka.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved