Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Lifestyle

Bahaya Kondisi Stunting Bagi Anak, Bagaimana Protein Hewani Mencegahnya?

Kondisi stunting akan berdampak serius bagi kesehatan anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang

Editor: Finneke Wolajan
Serambi Indonesia - Tribunnews.com
ilustrasi stunting 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Stunting atau perawakan pendek pada anak akibat malnutrisi kronis masih menjadi tantangan di Indonesia.

Terlebih, Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen yang artinya 1 dari 3 balita mengalami stunting.

Kondisi stunting akan berdampak serius bagi kesehatan anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Dampak jangka pendek meliputi perkembangan tubuh anak yang terhambat, performa anak yang menurun di sekolah, peningkatan angka kesakitan dan risiko kematian.

Sedangkan untuk dampak jangka panjang dari stunting yaitu obesitas, peningkatan risiko penyakit tidak menular, bentuk tubuh pendek saat dewasa, serta penurunan produktivitas dan kualitas hidup anak di masa mendatang.

Baca: 7 Minuman Pengganti Kopi yang Bikin Mata Melek, dari Matcha tea Hingga Kombucha

Baca: 10 Cara Turunkan Berat Badan Tanpa Olahraga, dari Sauna Hingga Konsumsi Kacang-kacangan

Baca: 10 Manfaat Kopi Hitam Tanpa Gula dan Susu, Bersihkan Perut Hingga Antioksidan Bagi Tubuh

Dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A(K) mengungkapkan, stunting hanya bisa teratasi selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan masa di mana otak anak berkembang pesat.

ASI Eksklusif, katanya, penting diberikan selama 6 bulan pertama dan dapat diteruskan hingga anak berusia 2 tahun.

"Pada tahap pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), orangtua harus memperhatikan pola asupan gizi yang seimbang, terutama untuk memberikan asupan karbohidrat, lemak tinggi, dan protein hewani," katanya.

Damayanti mengungkapkan itu dalam seminar Gizi Untuk Bangsa (GUB) yang digelar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI).

Sementara itu, Marudut Sitompul dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengungkapkan, asupan protein paling baik dapat diperoleh dari sumber protein hewani yaitu telur dan susu.

"Karena (telur dan susu) memiliki nilai cerna dan bioavailabilitas paling tinggi dan asam amino esensial lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan linear anak-anak," katanya.

Sayangnya, pada kenyataannya, asupan protein hewani pada anak-anak di Indonesia tergolong rendah.

Dalam salah satu studi ditemukan, bahwa asupan protein hewani yang rendah ini berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting.

Anak yang tidak mengkonsumsi jenis protein hewani apa pun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi tiga jenis protein hewani yaitu telur, daging, dan susu.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved