Tak Hentikan Kasus Nursalim: Begini Langkah KPK

Pasangan suami istri Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim yang terlibat kasus korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)

Tak Hentikan Kasus Nursalim: Begini Langkah KPK
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Kantor KPK 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pasangan suami istri Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim yang terlibat kasus korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kerap kembali mangkir dari panggilan pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Atas sikap tak kooperatif tersebut, KPK sedang mempertimbangkan sejumlah langkah hukum terhadap Sjamsul dan Itjih. "KPK akan mempertimbangkan langkah lebih lanjut yang akan dilakukan terkait dengan dua kali ketidakhadiran tersangka ini," tegas Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Minggu (21/7).

Baca: Menteri Susi: Tenggelamkan Pembuang Plastik

KPK memastikan akan terus mengusut kasus ini. Tak hanya memeriksa saksi, komisi antirasuah juga terus melacak aset Sjamsul dan Itjih untuk kebutuhan pemulihan kerugian keuangan negara yang ditaksir mencapai Rp 4,58 triliun. "Penelusuran aset untuk kepentingan asset recovery juga menjadi perhatian KPK," ujar Febri.

Sjamsul dan Itjih sedianya diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) BLBI. Mereka sudah dua kali mangkir pemeriksaan KPK, yakni pada 28 Juni dan 19 Juli 2019.

KPK telah melayangkan surat panggilan pemeriksaan ke lima alamat di Indonesia dan Singapura yang terafiliasi dengan pasangan suami-istri itu. Di Indonesia, KPK mengirimkan surat panggilan pemeriksaan ke rumah kedua tersangka di Simprug, Grogol Selatan, Jakarta Selatan.

Baca: Tak Lagi Antre Panjang di Bandara Soetta

KPK mengirimkan surat panggilan pemeriksaan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), ke empat alamat, yaitu 20 Cluny Road; Giti Tire Plt Ltd (Head Office) 150 Beach Road, Gateway West; 9 Oxley Rise, The Oaxley dan 18C Chatsworth Rd.

Tak hanya melayangkan surat panggilan, KPK juga meminta KBRI di Singapura mengumumkan pemanggilan pemeriksaan Sjamsul dan Itjih di papan pengumuman Kantor KBRI. Upaya pemanggilan tersangka juga dilakukan dengan meminta bantuan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB/lembaga sejenis KPK) Singapura.

Perkara tersebut merupakan pengembangan dari kasus mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Temenggung. Belakangan, Mahkamah Agung membebaskan Syafruddin dari hukuman.

Baca: Demokrat Ikut Incar Kursi Ketua MPR

Padahal di pengadilan tingkat pertama dan kedua Syafruddin divonis bersalah serta dijatuhi hukuman badan. Mahkamah Agung (MA) membebaskan Syafruddin karena menilai perbuatannya bukanlah tindak pidana.

Sjamsul merupakan pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang mendapatkan BLBI. KPK menyebut Sjamsul dan Itjih bersekongkol dengan Syafruddin sehingga mengakibatkan kerugian negara Rp 4,58 triliun. (tribunnetwork/ilm)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved