Bikin Kampung Lalat, Hasilnya Mulai Terasa, Siswa Dapatkan Beasiswa

Budidaya lalat tentara hitam sebagai solusi mengatasi persoalan pengelolaan sampah di Banyumas.

kompas.com
Warga membudidayakan lalat tentara hitam Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Lebih dari 200 kepala keluarga (KK) merintis budidaya lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF).

Hasilnya mulai mereka rasakan. Satu di antaranya untuk membayar iuran jaminan sosial ketenagakerjaan di di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Di pelataran sebuah rumah, sejumlah pemuda di kampung yang berada pinggir hutan lereng selatan Gunung Slamet tampak sibuk menyiapkan kandang sederhana dari kayu.

Pemandangan serupa juga terlihat di rumah warga lainnya.

Sejak beberapa waktu terakhir, warga di Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini tengah merintis pembuatan Kampung Lalat.

Dua kandang besar dibuat sebagai rintisan usaha bersama, sementara kandang-kandang kecil disiapkan di setiap rumah untuk budidaya lalat yang memiliki nama latin hermetia illucens ini.

Penggagas Kampung Lalat Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Adib Wong Alas mengatakan, warga tertarik membudidayakan lalat tentara hitam.

Hal ini sebagai solusi mengatasi persoalan pengelolaan sampah di Banyumas.

“Satu kilogram maggot (larva) bisa mengonsumsi 1 kilogram sampah organik. Saya bayangkan ketika diterapkan setiap rumah, pemilahan sampah organik dan anorganik selesai di rumah tangga.

"Sampah organik akan diurai menjadi kompos,” katanya, Sabtu (13/4/2019).

Halaman
1234
Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved