Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Moody's Menurunkan Outlook Surat Utang BUMI

Moody's Investors Service menurunkan outlook peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari sebelumnya stabil menjadi

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kompas.com
Pengangkutan hasil tambang batubara 

Namun sayang, hasil investasi asuransi umum di tahun lalu menurun. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, hasil investasi asuransi umum turun tipis 3,5%, dari Rp 4,4 triliun pada 2017 menjadi 4,25 triliun di 2018.

Menurut Dody, hal ini disebabkan  dinamika perekonomian dan pasar modal. Meskipun begitu, perlu diingat bahwa kinerja bisnis asuransi umum lebih mengarah ke hasil underwriting. “Agak berbeda dengan perusahaan asuransi jiwa yang mungkin harus menetapkan target hasil investasi tertentu karena produk yang dijual ada komponen investasinya,” kata dia.

Untuk tahun ini, ia mengatakan, industri asuransi umum akan tetap menempatkan investasinya pada instrumen-instrumen. Sebagai informasi, per 2018, premi bruto asuransi umum naik 9,7% dibanding 2017 menjadi Rp 60 triliun. Tahun ini, AAUI memproyeksi premi bruto industri asuransi umum bisa tumbuh 10%.

Sementara Asuransi Sinar Mas menargetkan premi bruto tumbuh moderat, yakni sebesar 6,7% menjadi Rp 7,9 triliun pada tahun ini. Per tahun 2018, premi bruto Asuransi Sinar Mas sebesar Rp 7,4 triliun, naik 29,8% dibandingkan tahun 2017 yang sebesar Rp 5,7 triliun.

Direktur Asuransi Sinar Mas Dumasi M.M. Samosir bilang pertumbuhan perusahaan ini tahun sebelumnya memang tinggi sekali. “Tahun lalu berat. Kami ngos-ngosan. Jadi, sepertinya tahun ini belum bisa setinggi itu,” kata dia.

Tahun Lalu MTN Multifinance Naik

Tahun lalu perusahaan pembiayaan masih menargetkan penerbitan medium term notes (MTN) sebagai salah satu alternatif sumber pendanaan. Berdasarkan data yang dipublikasikan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan MTN nasional pada tahun 2018 mencapai Rp 5,03 triliun.

Realisasi itu meningkat 89,09% dibandingkan penerbitan tahun 2017. Tahun ini MTN diproyeksikan melambat, karena menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya, kasus gagal bayar SNP Finance yang pada tahun lalu terkuak.

Walhasil investor lebih berhati-hati berinvestasi pada MTN yang diterbitkan perusahaan multifinance. Selain itu Otoritas Jasa Keuangan  (OJK) memberi regulasi lebih ketat dalam penerbitan MTN.

Beberapa perusahaan pembiayaan sendiri memang masih melihat-lihat kondisi pasar di tahun ini sebelum menerbitkan MTN. Adanya kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan dan memasuki tahun politik menjadi alasan pelaku usaha untuk menunda penerbitan surat utang jangka menengah ini hingga kondisi pasar stabil.

Salah satu multifinance yang menunggu kondisi pasar stabil adalah Bukopin Finance, yang terpaksa menunda penerbitan MTN. Semula, Bukopin Finance akan menerbitkan MTN pada kuartal II-2018. Bahkan, anak usaha Bank Bukopin ini telah menawarkan penerbitan MTN sekitar Rp 200 miliar hingga senilai Rp 500 miliar.

Direktur Utama Bukopin Finance Tri Djoko Roesiono mengaku, pihaknya menunda penerbitan surat utang jangka menengah ini.  "Kami masih melihat posisi pasar, kondisi politik dan melakukan evaluasi. Yang jelas, jika mau melempar produk maka harus melihat posisi dan perkembangan pasar lebih dahulu," kata Tri kepada KONTAN, Selasa (19/2).

Hal serupa juga dialami PT Indosurya Inti Finance atau dikenal Indosurya Finance. Perusahaan yang sempat menerbitkan MTN awal tahun 2018 lalu ini masih menunggu penjelasan soal aturan dari OJK. "Kami juga masih melihat kondisi pasar, tapi perusahaan telah menyampaikan rencana kerja tersebut ke OJK," ujar Mulyadi Tjung,  Managing Director Indosurya Finance. Sayang, ia masih enggan menyebutkan secara mendetil berapa jumlah dana yang dibidik melalui penerbitan surat utang. (Ferrika Sari/Intan Nirmala Sari/Nur Qolbi)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved