Moody's Menurunkan Outlook Surat Utang BUMI

Moody's Investors Service menurunkan outlook peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari sebelumnya stabil menjadi

Moody's Menurunkan Outlook Surat Utang BUMI
kompas.com
Pengangkutan hasil tambang batubara 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Moody's Investors Service menurunkan outlook peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari sebelumnya stabil menjadi negatif. Meski begitu, lembaga pemeringkat ini tetap mempertahankan rating surat utang BUMI di level B3.

Moody's menurunkan outlook BUMI lantaran meragukan kemampuan emiten batubara ini melunasi utang sesuai rencana. "Prospek negatif mencerminkan ekspektasi kami pembayaran pokok utang BUMI akan lebih rendah dibanding ekspektasi sebelumnya," kata Analis Moody's Maisam Hasnain, dalam pernyataan resmi, Selasa (19/2).

Sebelumnya, Moody's berharap BUMI bisa membayar beban pokok untuk utang obligasi Seri A dan fasilitas Tranche A sekitar US$ 300 juta-US$ 500 juta di akhir 2019. Namun, diperkirakan, BUMI hanya bakal bisa membayar sekitar US$ 220 juta, lantaran harga batubara bergerak di bawah proyeksi.

BUMI juga menghadapi kewajiban memasok batubara lokal atawa domestic market obligation (DMO). Harga DMO yang sudah dipatok dianggap merugikan BUMI.

Corporate Secretary & Investor Relations Division BUMI Dileep Srivastava memprediksi, hingga perusahaan ini bisa memperoleh perpanjangan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk PT Kaltim Prima Coal (KPC)/Arutmin, rating agency masih akan mempertahankan peringkat rapuh.

"Tapi rencana kami tidak berubah untuk membayar US$ 600 juta Tranche A dalam waktu 30 bulan dan US$ 600 juta Tranche B dalam waktu 18 bulan," kata Dileep kepada Kontan, Selasa (19/2). Diharapkan, utang perusahaan ini akan turun setelah membayar total US$ 1,2 miliar di akhir 2021 mendatang.

Apalagi, harapannya tambang Arutmin sudah bisa berkontribusi ke perusahaan ini mulai semester II tahun ini. Selain itu, harga batubara diprediksi akan meningkat, terutama setelah tahun baru China. Permintaan impor dari India juga diperkirakan masih akan meningkat.

Dileep menjelaskan, BUMI juga telah membangun persediaan yang memadai dan bisa menjual 7 juta-8 juta ton batubara per bulan sepanjang 2019. "Harapan kami peringkat utang bisa kembali ke stabil secepatnya," tutur dia.

Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menilai, BUMI memiliki kemampuan cukup besar untuk mempercepat pembayaran kewajiban. "Kami melihat penurunan peringkat dari Moody's seharusnya dapat menjadi motivasi bagi manajemen," kata dia.

Peluang kembalinya peringkat utang BUMI ke level stabil cukup besar, apalagi jika perusahaan ini bisa memenuhi target produksi dan penjualan 94 juta-96 juta ton tahun ini. Menurut Robertus, prospek sektor batubara masih cukup positif di tahun ini. "Prospek jadi lebih positif pasca pembatasan impor China dari Australia. Permintaan dapat beralih ke Indonesia," kata dia.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved