Sajjad Meninggal Dunia
Sehari Sebelum Bakar Diri, Sajjad Posting Ini di Facebooknya, Statusnya Sudah Ratusan Kali Dibagikan
sehari sebelum insiden itu Selasa (06/02/2019), Sajjad sempat membuat dan mengunggah sebuah status d Facebooknya
Penulis: Indry Panigoro | Editor: Indry Panigoro
Postingan itu sudah dibagikan oleh 602 orang dan mendapat 209 komentar.
Berikut isi postingannya:
Pada hari ini 1 februari 2019, PBB kembali menghentikan semua hak pencari suaka seperti bahan mandi, konsumsi, obat obatan, bahkan pendidikan kami di hentikan dan di larang pergi sekolah atau keluar dari rumah detensi imigrasi di karenakan kami tidak di ijinkan untuk menuntut keadilan selama 20 tahun menjadi tahanan PBB. Dan juga hari ini rumah tahanan detensi imigrasi Manado di kunci. Kami di sini hanya pencari suaka, kenapa kami di tahan seperti ini dan di kunci layaknya pembuat kasus dan atau juga kejahatan. Atas dasar apa penguncian ini?
Terima kasih sudah mau Share postingan ini.
.
Lokasi : Rumah Detensi Imigrasi Manado
Arti foto : Mogok makan, Tahanan Imigrasi
.
.
Amnesty International Amnesty International USA Human Rights Law Centre Presiden Joko Widodo Humanright Humanrights Activities Foundation Humanrights HumanRight Asylum Seekers Voice EL Vigel ManadoPost.co.id Tribun Manado Sirkulasi SINDOnews DUTA JokoWidodo pak Joko Widodo kh ma,ruf amin detikcom
#humanright #asylumseekrs #20years #unhcr #internationalhumanright #actforhuman #wearehuman #wearenotcriminal #worldhumanright #hakasasianak #hakasasiperempuan #hakasasimanusia #keadilandunia #jokowi #prabowo #indonesia #australia #canada #newzealand #america #netherland #russia #england #iran #france #germany #turkey #spain #fifa #mexico #international #angelinajoli #angelinajolie

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Tribunmanado.co.id mendapat kesempatan untuk mewawancarai Sajjad lebih intens.
Sajjad mengaku, aksi tersebut dilakukan saat dirinya hendak ditangkap karena memprotes PBB yang tak memenuhi status mereka sebagai pengungsi.
Aksi protes sudah dilakukan oleh puluhan penghuni dalam beberapa tahun terakhir.
Mereka melakukan unjuk rasa dan mogok makan karena ditolak menjadi pengungsi.
"Selama ini PBB terlebih khusus UNHCR telah menginjak hak kami. Sebab selama 20 tahun ini mereka tidak pernah lanjuti janji mereka. Saya ingin bertanya kepada mereka. Kenapa? Ada apa?" ujar Sajjad saat ditemui tribunmanado.co.id di RSUP Kandou, Sabtu (09/02/2018)
Dia dan penghuni lainnya menggelar aksi protes untuk mendapatkan status sebagai pengungsi. Upaya bertahun-tahun itu tak kunjung dipenuhi PBB dan lembaga internasional lainnya.
"Dengan diperolehnya status pengungsi tersebut. Kami memiliki hak untuk dikirim ke Community House yang berada di Makassar atau Jakarta, sebelum dideportasi ke negara tujuan. Sehingga tidak merasa terpenjara di Rudenim Manado ini," bebernya
Dia mengungkapkan semua aksi demonstrasi dan mogok makan beberapa tahun terakhir hanya untuk mendapatkan status sebagai pengungsi.
"Selama 9 Tahun kami di Rudenim, haknya kami selalu diambil. Bahkan kamar kami pernah dihancurin," jelas Sajjad.
Atas aksi protes tersebut, dia dan keluarganya didatangi petugas dan kepolisian.
"Kami bukan pelaku kriminal di Manado. Kami tidak pernah buat kekacauan di Kota Mando. Selama ini kami damai di sini," ucapnya.
"Mereka mau menangkap kami seperti orang pembuat kriminal. Kami hanya ingin hidup damai di Manado, kenapa mau ditahan seperti orang pembuat kriminal," tambahnya.