Kamis, 16 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bambu Hasilkan Ribuan Produk Turunan, Termasuk Pakaian dan Interior Pesawat

Dunia sekarang sudah sepakat bambu adalah the rich timber, karena nilai ekonominya sudah berlipat ganda

VOA/Rio Tuasikal
Sepatu berbahan serat bambu 

“Produk turunan itu lebih dari 1.500, mulai dari A sampai Z. A itu airplane skin, kulit interiornya pesawat terbang. Boeing 747 itu sudah pakai bambu untuk kulit lapisnya. Sampai Z itu zither, kecapi. Sampai yang sederhananya yang seperti itu,” jelas Dudi yang juga ketua panitia ‘Bambu is Wonderful’.

Dudi menuturkan, bambu memiliki potensi ekonomi yang besar karena cepat tumbuh, mencapai 12-30 cm per hari.

Sebatang bambu yang dipanen harganya Rp 3.000 rupiah dan bisa diolah menjadi kursi dan gelas bambu senilai Rp 300 ribu.

Baca: Bangun Rumah Bambu Hanya Dalam Waktu Empat Jam

Tanaman bambu juga mendorong kelestarian lingkungan. Sejumlah studi telah menunjukkan bambu menyerap karbon empat kali lebih banyak ketimbang pohon dan menghasilkan oksigen 35 persen lebih banyak dari pada pohon.

Penelitian juga menemukan bahwa bambu dapat menyerap karbon sampai 12 ton per hektar per tahun, membuatnya sangat bermanfaat untuk perbaikan lingkungan.

Keunggulan ekonomi dan lingkungan tersebut membuat bambu diakui sebagai sumber kayu untuk masa depan.

Hal itu disepakati masyarakat dunia lewat Global Bamboo Summit di Vietnam pada 2014 dan World Bamboo Congress di Meksiko pada 2018.

Sekjen Perpubi Dudi Darma Bakti menunjukkan gelas bambu dan tas bambu yang dipamerkan dalam ajang
Sekjen Perpubi Dudi Darma Bakti menunjukkan gelas bambu dan tas bambu yang dipamerkan dalam ajang "Bambu is Wonderful" di Bandung. (VOA/Rio Tuasikal)

Kenapa Bambu Belum Diterima Luas?

Meski bambu punya sejumlah keunggulan dan manfaat, nyatanya produk bambu belum diterima luas. Menurut Dudi, masyarakat masih belum mengenal manfaat tanaman ini.

“Hambatan karena ketidakpahaman masyarakat kita terhadap bambu. Baik dari manfaat maupun fungsi bambu secara kepentingan biologi, ekosistem, ekonomi dan budaya. Mereka tidak paham,”

Selain itu, gambaran bambu sebagai bahan baku tradisional belum hilang.

“Dulu seluruh dunia menganggap bambu adalah the poor timber, bahan baku alam untuk orang miskin. Seperti untuk bilik bambu. Dunia sekarang sudah sepakat bambu adalah the rich timber, karena nilai ekonominya sudah berlipat ganda,” jelasnya.

Dunia memiliki lebih dari 1.000 spesies bambu yang tersebar di Asia Tenggara, Asia Timur, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian Australia. Diperkirakan setidaknya 10 persen spesies ada di Indonesia.

Baca: Kelompok Nelayan Cahaya Tatapaan Budidayakan Bambu Laut

Namun pengusaha di Indonesia belum mampu memproduksi serat bambu di dalam negeri.

Sebab untuk mengembangkan industri ini perlu lahan bambu sekira 1.500 hektare. Pengusaha Taufiq Rahman mengatakan, para pengusaha ingin merintisnya.

Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved