RS Kandou Janji Beri Penjelasan soal Kisah Teguh Sondakh
Pihak RSUP Prof dr RD Kandou Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, berjanji memberi penjelasan lengkap soal penanganan medis terhadap Teguh Sondakh.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Alexander Pattyranie
Dengan berat hati akhirnya Olvin membawa pulang teguh kembali ke rumah di Desa Tateli, Kecamatan Mandolang.
Namun pada malam harinya, luka Teguh mengeluarkan darah busuk dan makin bengkak.
Sepanjang malam, Teguh meringis kesakitan akibat luka tersebut.
"Pada pukul 5 subuh tanggal 7 November kami melarikan Teguh ke RS Prof Kandou karena tak tahan melihat penderitaan anak kami. Tanggal 8 dilakukan operasi pertama pengangkatan daging yang sudah busuk," kata Teguh.
Usai operasi, dokter mengatakan jika dalam beberapa hari luka Teguh tak sembuh, maka akan dilakukan penanganan lebih lanjut.
Benar, selang beberapa hari dirawat, luka Teguh tak sembuh-sembuh juga.
Akhirnya pada tanggal 13 Februari dokter meminta Olvin untuk menandatangani surat pernyataan supaya membolehkan kaki kiri Teguh diamputasi.
Bak petir di siang bolong, kabar itu membuat Teguh dan orangtuanya terperenyak.
Namun demi keselamatan sang anak, mereka sepakat melalukan tindakan itu.
"Kata dokter jika tak diamputasi, maka busuknya akan sampai ke jantung dan saya bisa mati. Dokter potong kaki kiri ini sampai ke paha, padahal awalnya luka hanya di betis," ujar Teguh dengan mata berkaca-kaca.
Harapan Teguh untuk menjadi seorang polisi, sirna saat itu juga.
Padahal, pada Februari ia sudah mendaftar menjadi bakal anggota polisi dan akan dites pada bulan Maret.
"Semua yang terjadi ini adalah seizin Tuhan. Tapi saya akan terus mencari keadilan sampai tahu kenapa kaki saya diamputasi," pungkas dia.
(Tribunmanado.co.id/Arthur Rompis/Andrew Alexander Pattymahu)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rsup-prof-kandou-manado_20170829_160925.jpg)