Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Masa Optimistis Pasar Saham Sudah Lewat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan. Pada perdagangan kemarin, indeks saham anjlok 1,89%

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
IHSG Menguat 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan. Pada perdagangan kemarin, indeks saham anjlok 1,89% ke level 5.756,62, seiring aksi jual bersih (net sell) investor asing hingga Rp 1,16 triliun.

Fluktuasi indeks saham belakangan ini membuat IHSG sulit mencapai target tinggi yang dipatok beberapa analis. Alhasil, para analis mengubah target IHSG di akhir tahun.

"Kami revisi jadi 6.400 dari sebelumnya 6.600," ujar Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali, Kamis (10/4). Menurut dia, bottom IHSG ada di 5.600.

Head of Institutional Research MNC Sekuritas Thendra Crisnanda juga merevisi target IHSG menjadi 6.215. Sebelumnya, Thendra memprediksi IHSG bisa mencapai 6.542 di akhir 2018.

Depresiasi rupiah menjadi isu utama yang menekan pergerakan indeks. Defisit neraca berjalan yang masih tinggi kian memperburuk keadaan.

Namun, tak ada asap jika tak ada api. Isu tersebut didorong oleh berbagai sentimen, mulai dari perang dagang AS dan China yang kian panas hingga kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve. "Kami meyakini tekanan IHSG lebih disebabkan oleh faktor eksternal," jelas Thendra.

Faktor domestik

Kevin Juido, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas sependapat. Depresiasi rupiah yang menyentuh Rp 15.200 per dollar Amerika Serikat (AS) memancing investor asing menarik dananya keluar dari pasar. "Perubahan signifikan seperti itu membuat net sell yang juga signifikan," kata Kevin.

Jika dilihat dari posisi sekarang, target penutupan IHSG di 6.400 sepertinya tampak jauh. Tapi, para analis menilai proyeksi penutupan IHSG di level tersebut masih wajar. Sebab, tahun lalu, IHSG ditutup di level 6.355. "Tidak tinggi jika dibandingkan dengan level penutupan tahun lalu," imbuh Frederik.

Sejumlah sentimen bakal mendukung pembalikan arah indeks tersebut. Di antaranya, laporan keuangan emiten dan window dressing di akhir tahun.

Analis menyebut investor bisa memanfaatkan momen penurunan harga saham untuk mengoleksi saham murah. Jika mempertimbangkan faktor eksternal, memang masih ada sentimen kenaikan bunga The Fed di akhir tahun. Tapi, pelaku pasar sudah lebih siap.

Thendra menuturkan, kenaikan bunga The Fed juga sudah mulai terbatas. Potensi kenaikannya tahun depan sekitar 50 basis poin (bps), lebih kecil dibanding tahun ini. "Apalagi, secara historis, pertumbuhan ekonomi dalam negeri selalu lebih positif di kuartal IV setiap tahunnya," jelas Thendra.

Itu yang menjadi alasan Thendra optimistis pasar bakal berbalik arah di kuartal IV ini. Tapi, dia tak menampik jika skenario terburuk bisa terjadi dan membuat indeks menembus target pesimistis di 5.535. Tapi, kemungkinan terjadinya skenario pesimistis hanya sekitar 20%.

BPD Menjaga NIM Lewat Dana Murah

Tren kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang sudah terkerek hingga 150 basis poin (bps) sejak awal tahun berpotensi menekan net interest margin (NIM) atau margin bunga bersih perbankan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved