Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Buana Lintas Siap Berlayar Lebih Laju

Lepas dari daftar hitam pengadaan barang dan jasa PT Pertamina, PT Buana Lintas Lautan Tbk siap berlayar cepat.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
Mata uang rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Lepas dari daftar hitam pengadaan barang dan jasa PT Pertamina, PT Buana Lintas Lautan Tbk siap berlayar cepat. Perusahaan pelayaran itu optimistis, 90% pendapatan di paruh kedua tahun ini berasal dari kontrak pengangkutan.
Wong Kevin, Direktur Utama Buana Lintas, menyatakan, untuk kontrak, perusahaannya tetap konsisten pada pengembangan usaha utama di sektor minyak dan gas (migas). "Dan, kami mulai mengembangkan pengangkutan batubara," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (21/9).

Sepanjang semester I-2018, emiten pelayaran dengan sandi saham BULL ini telah menerima beberapa kontrak baru untuk pengangkutan migas. "Untuk jumlah maupun target kontrak belum bisa kami katakan, karena terlalu agresif untuk mematok target kontrak," kilah Kevin.

Yang jelas, dengan pemulihan sanksi dari Pertamina, Buana Lintas bisa mengikuti kembali kegiatan pengadaan barang dan jasa di lingkungan perusahaan energi pelat merah itu. "Pertamina tentu selalu menjadi mitra utama kami karena sudah dijalin sejak lama," imbuh Kevin.

Info saja, pada 14 September lalu, Buana Lintas menerima surat dari Pertamina Nomor 125/100100/2018-SO tentang Pemulihan Sanksi Kategori Hitam. Tahun lalu, sebesar 50% kontrak mereka berasal dari Pertamina.
Dalam waktu dekat, Buana Lintas yakin bisa mendapatkan beberapa kontrak anyar, baik untuk pengangkutan di sektor migas maupun batubara. Nah, "Untuk menunjang kontrak tersebut, kami juga berencana untuk menambah kapal dan beberapa di antaranya ditargetkan sebelum akhir tahun," ungkap Kevin.

Menurut Kevin, peluang pengangkutan batubara untuk kapal nasional cukup besar. Terutama pasca penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/2017 yang menyebutkan, eksportir batubara dan minyak kelapa sawit (CPO) wajib menggunakan angkutan laut dalam negeri untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor.

Selama ini pengangkutan batubara dikuasai kapal-kapal asing. Kevin bahkan mengungkapkan, hanya ada delapan kapal nasional yang beroperasi untuk mengangkut batubara. "Kami lihat pasarnya besar sekali. Ada peraturan itu, kami jadi sadar. Kalau peraturan tersebut dicanangkan, kami lihat pasarnya besar sekali," ucap Kevin.
Untuk bisa masuk ke bisnis pengangkutan batubara, Kevin menyebutkan, perusahaannya perlu membeli kapal baru. Tapi, jumlah kapal yang akan mereka beli masih dalam kajian manajemen.

Kinerja tumbuh

Selain mulai menjajaki tender pengangkutan batubara. BULL juga mengincar mitra-mitra baru dan mencoba meningkatkan kontrak kerjasama dari luar negeri. Makanya, Kevin tetap optimistis, perusahaannya bisa memperoleh pertumbuhan kinerja yang baik di tahun ini dengan penambahan mitra baru.

Apalagi, seluruh armada milik Buana Lintas yang berjumlah 17 kapal saat ini sudah terikat kontrak. Sehingga, Kevin makin optimistis, perusahaannya bisa mencatatkan pertumbuhan tahun ini.
Sayang, untuk kinerja semester I-2018, Kevin enggan buka-bukaan. Hanya, ia mengatakan, ada peningkatan pendapatan dibanding periode yang sama 2017. "Untuk kinerja, sebentar lagi kami terbitkan laporan keuangan. Yang pasti, hasilnya ada peningkatan," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2018, pendapatan Buana Lintas selama tiga bulan pertama tahun ini tumbuh 31,44% menjadi US$ 21,11 juta, dari periode sama tahun lalu US$ 16 juta.
Sementara untuk laba bersih di kuartal I-2018, juga mengalami lonjakan mencapai 163% menjadi US$ 2,8 juta dari raihan masa sama 2017 sebesar US$ 1,1 juta.
Sejauh ini, Buana Lintas memiliki 17 kapal tanker. Kapal-kapal itu mereka gunakan untuk tanker minyak mentah, FPSO, tanker gas bumi, dan tanker bahan kimia. Total kapasitas 17 kapal Buana Lintas mencapai 850 juta ton.
Laba

Bank BUMN Masih Terjaga


Kinerja bank pelat merah hingga awal kuartal III 2018 ini, cukup memuaskan. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total laba bersih empat bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per Juli 2018 mencapai Rp 40,64 triliun. Artinya, tumbuh 15,76% year on year (yoy) dari posisi Juli 2017 yang sebesar Rp 35,11 triliun. (lihat tabel)

Laba bersih empat bank BUMN mengambil porsi sebesar 48,56% dari total laba bank umum yang mencapai Rp 83,68 triliun pada periode Juli 2018. Bila dirinci, kenaikan laba bank BUMN ditopang dari kenaikan pendapatan bunga bersih yang tumbuh 7,27% yoy menjadi Rp 95,16 triliun.

Direktur Strategi, Risiko dan Kepatuhan Bank Tabungan Negara (BTN) Mahelan Prabantarikso mengatakan, sejauh ini pertumbuhan kinerja BTN masih sejalan dengan target. Bank spesialis kredit perumahan ini mencatat realisasi laba bersih di Juli 2018 sebesar Rp 1,45 triliun, naik 17,63% yoy. Mahelan pede target laba BTN di akhir tahun dapat terealisasi yakni tumbuh di kisaran 19%-22%.
Untuk mencapai target tersebut, pihaknya terus menggempur pendapatan bunga yang mayoritas berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi. Dari pos ini, pendapatan bunga mengalami peningkatan sebanyak 18,89% yoy.

Target laba terjaga

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved