Terus Dikerjai CIA, Semangat Revolusi Fidel Castro Terus Membara
Tulisan pemimpin tertinggi Kuba yang sejak umur 19 tahun sudah ikut "revolusi" ini sebagai jawaban atas deklarasi Uni Pemuda Komunis Kuba
Fidel pun masuk penjara dan diceraikan istrinya.
Dua tahunan berlalu, Mei 1955, Fidel mendapat amnesti dari Batista. Castro yang masih mendendam lari ke Meksiko dan merancang revolusinya dari sana.
Che guevara dan Barbudos
Taktik gerilya klasik menjadi pilihan Castro untuk menyerang balik rezim Batista. Di Meksiko, ia sempat berkenalan dengan Ernesto "Che" Guevara, pakar teoritis dan taktik perang gerilya asal Argentina.
Fidel makin bersemangat saat Che meyakinkan, solusi melepaskan rakyat dari kemiskinan hanyalah melakukan "revolusi dengan kekerasan".
Pada 26 November 1956, Castro bersaudara bersama Che dan 80 pengikut lainnya kembali ke Kuba dengan kapal Granma. Geng pemberontak ini mendarat pada 2 Desember 1956. Dalam waktu singkat, pasukan gerilya itu berantakan dan tewas.
Meski angkanya simpang siur, sekitar 20 orang termasuk Castro bersaudara. Che, dan Camilo Cienfuegos lari dan bersembunyi di Pegunungan Sierra Maestra. Gerilya ini mendapat dukungan fidelismo yang sebagian besar masyarakat pedalaman.
New York Times pertengahan tahun 1957 tiba-tiba memuat berita dan gambar Castro cs, termasuk foto Che Guevara. Banyak yang kaget karena mengira Fidel dan revolusinya sudah mati.
Makin lama Fidel makin kuat, sebaliknya Batista kian kedodoran karena AS menghentikan bantuan dolarnya. Fidel pun kian populer dengan tampang berewokan berpakaian militer lusuh serta mengisap cerutu Havana kesukaannya.
Tampang penyeru gerakan revolusioner Kuba itu kian romantis bagi pengagum gerakan keras dan revolusi kontan ala Kuba.
Batista mulai kelabakan dan langsung membentuk Operasi Verano pada 1958. Tujuannya membasmi Fidel cs. yang kian ngetop. Gerakan "La Ofensiva" makin melemah, sedangkan pasukan Castro kian kuat karena mendapat dukungan tentara Batista yang membelot, termasuk escopeteros (wajib militer).
Desember 1958, pasukan Castro dengan semangat "revolusi dengan kekerasan" terus merangsek dari segala lini, termasuk barisan gerilya pimpinan Cienfuegos dan Che Guevara yang terkenal.
Awal Januari 1959, Batista yang keok bersama Presiden Andres Rivero Aguero yang baru terpilih kabur ke Dominika, dan kemudian ke Spanyol. Dalam usia 32 tahun, Dr. Fidel Castro menjadi dalang gerilya klasik dan mendepak diktator Kuba, lalu menjadi perdana menteri pada 16 Februari 1959, serta memimpin negara "tanpa kolonel dan jenderal" itu.
Setelah itu, "dendam" Castro kepada AS terwujud. United Fruit menjadi sasaran "nasionalisasi" Kuba, disusul perusahaan AS lainnya.
Padahal Fidel pada 15 - 26 April 1959 sempat diundang ke AS, sambil senyam-senyum menggeragot hotdog dan hamburger Amerika, di muka undangan Press Club. Toh Castro yang fasih berbahasa Inggris makin terkenal dan dibenci politisi AS. Apalagi saat dia menolak bertemu dengan Presiden AS Dwight Eisenhower.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/soekarno_20180216_152216.jpg)