Tajuk Tamu - Alam Sebagai 'Rumah Kita Bersama'
Bumi tempat kita hidup telah mengalami perusakan yang semakin hari semakin parah yang meprihatinkan dan mengancam kehidupan
Oleh: Laurensius Benny Rahangmetan MSC, (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng)
Persoalan mengenai lingkungan hidup selalu menjadi tema yang sangat sentral dan selalu aktual dibicarakan saat ini di berbagai belahan dunia.
Alasan utama mengapa tema ini selalu dibicarakan tidak lain adalah kesadaran bahwa bumi tempat kita hidup telah mengalami perusakan yang semakin hari semakin parah kerusakannya.
Tidak perlu melihat ke seluruh dunia. Di Indonesia, misalnya, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dalam laporan tentang perusakan lingkungan hidup pada tahun 2015 lalu menghadirkan sorotan fakta dan realitas sesungguhnya dari wajah bumi Indonesia yang sebagian besar hutannya telah gundul, dilanda banjir, industri pertambangan yang tidak cukup menghiraukan akses bagi kualitas kehidupan, krisis air, pembuangan sampah, polusi, dan lain-lain.
Dan ini hampir sebagian besar disebabkan oleh perilaku manusia, paradigma yang keliru tentang alam semesta yang diikuti oleh sikap dan tindakan yang serakah dan eksploitatif.
Konsekuensinya adalah hilangnya harapan generasi kemudian akan bumi sebagai tempat tinggal yang layak dan aman untuk ditempati.
Tampak bahwa ada sebuah masalah yang serius sedang terjadi diantara kita sehubungan dengan bumi, tempat dimana kita hidup.
Yang dimaksud sebenarnya adalah bahwa kita hidup ditengah dunia yang mengalami krisis yang disertai dengan bencana lingkungan hidup yang semakin parah.
Laporan diatas juga sekaligus membuka mata dan menyadarkan kita untuk bagaimana kita menyikapi realitas yang demikian memprihatinkan oleh karena mengancam kehidupan.
Mengapa semua kerusakan itu bisa terjadi? Lagi, bagaimana kita memahami dan menanggapi persoalan itu?
Untuk memahami alam kita tidak dapat memisahkannya dari paham atas manusia itu sendiri, yang bertolak dari gagasan antroposentrisme.
Antroposentrisme adalah salah satu keyakinan bahwa manusia adalah pusat dan entitas yang paling signifikan di alam semesta.
Dalam konteks lingkungan hidup, tesis dasar dari antroposentrisme adalah pemanfaatan terhadap lingkungan hidup harus tunduk pada kepentingan manusia.
Alam dalam konteks ini hanya memiliki nilai instrumental, sebagai obyek eksploitasi, eksperimen untuk kepentingan manusia.
Karena itu, paradigma ini telah melahirkan pola perilaku eksploitatif manusia terhadap alam secara tak terkendali tanpa mempertimbangkan kelestariannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/manado_20180609_104447.jpg)