RENUNGAN MINGGU : Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian

Paus Paulus VI mengkat tema: Komunikasi Sosial demi Pelayanan Kebenaran pada tahun 1972 untuk membendung penyebaran berita bohong

RENUNGAN MINGGU : Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian
Ist
Sri Paus Fransiskus 

Kesulitan untuk membuka kedok dan menyingkirkan berita palsu juga disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak orang berinteraksi dalam ruang lingkup digital yang seragam, yang “kedap” terhadap aneka sudut pandang dan pendapat yang berbeda, sehingga informasi sesat tumbuh subur di tengah tidak adanya informasi tandingan dari sumber-sumber lain yang dapat secara efektif menangkal prasangka dan melahirkan dialog konstruktif.

Akibatnya, berita palsu itu menyeret orang menjadi kaki-tangan untuk meneruskan penyebaran gagasan tak berdasar dan bias.

Tragedi dari informasi sesat ialah pendiskreditan pihak-pihak lain, menampilkan mereka sebagai musuh, dengan tujuan menjadikan mereka sasaran kebencian dan mengobarkan konflik.

Berita bohong adalah wujud dari sikap intoleran dan hipersensitif, yang hanya akan mengarah kepada penyebaran arogansi dan kebencian. Itulah capaian akhir dari kebohongan.

2. Bagaimana Kita Dapat Mengenali Berita Palsu?

Kita semua tanpa kecuali bertanggungjawab menangkal berita palsu. Ini bukan tugas gampang, karena informasi sesat berakar pada retorika menyesatkan yang dengan sengaja dibuat sedemikian ringkas dan kadang-kadang memanfaatkan mekanisme psikologis yang mengelabui.

Saat ini berbagai upaya yang patut dipuji sedang dilakukan untuk menciptakan program-program pendidikan yang bertujuan membantu orang menafsirkan dan menilai informasi yang disajikan media, dan mengajar mereka untuk secara aktif berperan membuka kedok kepalsuan, dan bukannya secara tidak sengaja malah giat menyebarkan informasi sesat.

Kita patut menghargai aneka prakarsa kelembagaan dan hukum yang bertujuan mengembangkan regulasi untuk mengendalikan fenomena tersebut, demikian juga upaya yang sedang dilakukan pelbagai perusahaan teknologi dan media untuk menemukan kriteria pembuktian identitas pribadi yang tersembunyi di baik jutaan profil digital.

Namun upaya mencegah dan mengidentifikasi cara informasi sesat bekerja, juga memerlukan proses disermen mendalam dan seksama.

Kita perlu membuka kedok dari apa yang dapat disebut “taktik ular” yang dipakai oleh mereka yang menyamarkan diri agar dapat menyerang pada setiap waktu dan tempat.

Halaman
1234
Penulis: David_Manewus
Editor:
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved