Dewan Pers : Wartawan Ujung Tombak Suksesnya Pemilukada Berintegritas
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Aryaduta Hotel Manado dan bekerjasama dengan Dewan Pers
Penulis: Handhika Dawangi | Editor:
"Jadi silakan dekat. Yang tidak bisa itu yaitu 'berselingkuh' dengan calon," ujar Aswin.
Aswin juga mengatakan pendapatnya, bahwa mengambil informasi di medsos itu bisa saja dilakukan sebagai informasi awal.
"Informasi awal yang kemudian ditindaklanjuti dengan mengecek kebenarannya. Itu bisa dilakukan. Yang tidak bisa itu kita mengcopy mentah-mentah dan menyebar berita hoax," ujar dia.
Mengenai iklan, Aswin juga menegaskan bahwa bisnis itu urusannya teman-teman di bagian bisnis. "Kita ini di redaksi. Tugas dan tanggung jawab kita yaitu di pemberitaan," ujar Aswin.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado Lynvia Gundhe juta mengatakan hal senada. Kata dia dalam jurnalistik kita bukan hanya mengumpulkan informasi dan memasukkannya dalam berita.
Melainkan ada kode etik jurnalistik.
"Di Aji ada kode etik dan kode perilaku yang harus dipatuhi oleh anggota AJI. Tahun ini ada dua anggota AJI diminta mundur karena memilih menjadi tim media center satu paslon di Sitaro dan anggota panwascam pilkada di Mitra.Wartawan yang terlibat pemilukada dan politik praktis kami minta mundur," ujar dia.
Lanjut Lynvia, dalam menghadapi pemilukada integritas itu sangat penting.
"Sekarang menjadi wartawan itu mudah. Semua bisa menjadi wartawan. Berbeda dengan kami dulu tidak langsung menjadi wartawan penuh. Harus mengikuti training begitu lama. Kami terus dilatih," ujar dia.
Jimmy Silalahi Anggota Dewan Pers Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan mengatakan bahwa perbedaan adalah warna.
"Inilah warna. Bukan hanya warna anda menyajikan pemberitaan, tetapi warna pola pikir anda. Saya berterima kasih selama ini saya diterima di online, televisi, radio, dan cetak. Oleh sebab itu inilah warna sesungguhnya bahwa teman-teman pers ini pasti tidak akan sama. Pola pikirnya pasti akan berbeda-beda. Tapi disinilah kekayaan kita. Keberagaman itu tercermin dengan perbedaan yang ada di antara anda," ujar Jimmy.
Lanjut Jimmy, media sosial bisa dijadikan sumber informasi.
"Sumber informasi, bukan sumber berita. Ketika anda mengambil dari media sosial. Itu menjadi background. Lakukan proses kejurnalistikan, lakukan verifikasi sebelum dijadikan berita," ujarnya.
Dia mengatakan Dewan Pers berharap mudah mudahan pilkada di enam wilayah di Sulut kondusif, terdukung dengan edukasi atau pemberitaan anda.
"Kami berharap jangan ada lagi nanti mengedepankan ego dari masing-masing organisasi wartawan. Ketika anda memberitakan itu, walaupun dengan warna yang berbeda-beda. Tapi tolong ada berdiri di atas satu kepentingan yang sama. Anda membela kepentingan masyarakat. Tidak peduli anda dari organisasi mana. Bagi kita yang paling penting adalah anda bertanggung jawab terhadap proses munculnya enam pasang kepala daerah yang baru nanti," ujar Jimmy.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/manado_20180421_161141.jpg)