Depresi Usai Persalinan Ternyata Pengaruhi Perkembangan Si Kecil
Ragam faktor ini kemudian memunculkan ketakutan tersendiri bagi para calon ibu, karena rasa khawatir yang akan terjadi pada janinnya.
Rawan alami masalah sosial-emosional
Depresi yang dialami Moms selama beberapa tahun pertama kehidupan anak dapat berdampak terhadap kemampuan sosial-emosional Si Kecil.
Riset yang dimuat di Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry di Januari 2017 memaparkan depresi yang dialami Moms dapat berdampak terhadap respons saraf empatik Si Kecil.
Hal ini menjadikan anak punya kecenderungan menarik diri dari pergaulan sosial.
Selain itu, anak juga punya kemampuan mengendalikan emosi yang buruk serta rasa empati yang rendah terhadap orang lain.
Cenderung alami gangguan perilaku saat remaja
Studi berjudul "Tracking Opportunities and Problems in Childhood and Adolescence" dalam Journal of Developmental and Adolescence Juni 2013 menemukan, Moms dengan gejala kecemasan dan depresi punya risiko tinggi memiliki anak dengan gangguan emosi dan perilaku di masa anak-anak.
Bahkan, anak-anak juga berisiko lebih tinggi untuk alami gejala depresi di masa remaja.
Dan kemungkinan gangguan perilaku ini cenderung sama, baik antara anak laki-laki dan perempuan.
Durasi menyusui lebih pendek
Studi jurnal Pediatrics pada April 2013 memaparkan, tingginya kecenderungan gangguan kecemasan dan depresi yang dialami ibu baru berkaitan dengan adanya gangguan saat menyusui.
Hal ini juga ditambahkan dengan durasi menyusui yang lebih pendek selama 6 bulan pertama usai melahirkan.
Para ahli menduga, gangguan menyusui ini dapat dipengaruhi oleh menurunnya hormon oksitosin ketika Moms sedang alami stres fisik dan mental.
Dan tentu saja, terjadinya gangguan menyusui dapat memengaruhi tumbuh kembang Si Kecil, mengingat ASI adalah sumber makanan utama bagi mereka.
Gangguan interaksi saat memberi makan Si Kecil
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-depresi2_20180327_154930.jpg)