Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jangan Ganti Jatah Tidur Malam ke Siang Hari, Berbahaya

Layaknya bom waktu, hal ini sewaktu-waktu meledak dan membahayakan kesehatan.

Tayang:
Editor: David_Kusuma
Bavorndej
Ilustrasi tidur nyenyak 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Mungkin banyak dari Anda yang tak bisa tidur di malam hari kemudian mencuri waktu tidur di siang hari agar bisa lebih produktif.

Tidur semacam ini dikenal dengan tidur polyphasic yang mengganti jatah tidur di malam hari ke siang hari. Durasi waktunya pun bermacam-macam.

Dilansir dari Time, Selasa (30/1/2018), tidur polyphasic adalah rahasia di balik pemikiran hebat para ilmuwan seperti Leonardo da Vinci dan Nikola Tesla.

Lalu, apakah tidur dengan pola seperti ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi tubuh?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita tahu apa itu tidur polyphasic yang mengganti jatah tidur malam ke siang hari. Bagi orang yang sudah menjalankan tidur polyphasic, pola tidurnya berbeda.

Salah satu yang paling populer adalah melakukan tidur nyenyak dan menambahkan tidur di siang hari selama 20 menit. Panjang tidur nyenyak di malam hari dan siang masing-masing orang berbeda, namun jika diakumulasi mereka menghabiskan waktu tiga sampai tujuh jam untuk tidur.

Baca: Gila! Gara-gara Tidur Siang Terganggu, Pria Ini Nekat Pukul Istri dan 2 Anaknya Pakai Palu

Ada pula yang hanya tidur siang selama 20-30 menit setiap empat jam dalam satu hari. Misalnya saja pukul 9.00 pagi tidur selama 30 menit, kemudian tidur lagi selama 30 menit pukul 13.00, begitu seterusnya.

Konon, orang yang melakukan pola tidur seperti ini otaknya bisa lebih produktif.

Itu karena saat tidur normal, otak sebenarnya hanya mendapat sekitar 1 jam untuk beristirahat (REM Sleep). Dalam periode ini, tubuh akan tidur dengan nyenyak, sedangkan sisa waktu yang lain digunakan untuk proses pertumbuhan dan detoksifikasi.

Oleh orang yang mempraktikkan tidur polyphasic, fase selain tidur REM tidak dibutuhkan. Mereka lebih memilih menggunakan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan lain. Ada anggapan bahwa jika melakukan pola tidur polyphasic maka sepenuhnya melakukan tidur berkualitas.

Bagi yang sudah mempraktikannya dan percaya akan manfaat yang diberikan tidur polyphasic, sebaiknya mulai belajar untuk tidur normal kembali. Sebab, para ahli sama sekali tidak menganjurkannya.

"Tak ada satupun literatur medis yang menunjukkan bahwa tidur polyphasic dapat memberi keuntungan bagi kesehatan," kata Dr. Alon Avidan, direktur Pusat Gangguan Tidur Universitas California, Los Angeles.

Sebaliknya, hal ini justru dapat mengganggu kesehatan, seperti muncul gangguan kognitif, masalah memori, dan risiko kecelakaan yang lebih tinggi.

Baca: Pengemudi Mengantuk, Mobil Avansa Masuk Jurang di Jalan Tababo-Ratahan

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved