Ilmuan Besar yang Terlupakan
SYOK! Ternyata ada 7 Ilmuan Besar yang Terlupakan, No 6 Dianggap Sesat
Nyaris tidak ada yang mengenal mereka, dilupakan, dikecilkan, bahkan ditutup-tutupi jasa besarnya. inilah 7 ilmuan besar yang dihapuskan sejarah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Nyatanya banyak ilmuwan atau yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan yang tidak mendapat pujian yang semestinya mereka dapatkan.
Mereka dilupakan, dikecilkan, bahkan ditutup-tutupi jasa besarnya.
Siapa di antara kita yang mengenal Alhazen? Siapa di sekeliling kita yang pernah mendengar nama Chien-Shiung Wu? Atau siapa yang pernah membaca kisah hidup Mary Anning?
Nyaris tidak ada yang mengenal mereka. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak mengenal mereka sama sekali, bukan?
1. Alhazen: si peletak dasar metode ilmiah
Mengamati, menghipotesis, melakukan uji coba, merevisi, mengulangi. Begitulah metode ilmiah dibangun.
Orang yang meletakkan dasar itu, bagaimanapun juga, telah dilupakan di dunia Barat.
Lahir pada pertengahan abad ke-10 di tempat yang sekarang bernama Irak, Ibn al-Haytham, yang oleh orang-orang Barat dikenal sebagai Alhazen, adalah sosok yang penuh keingintahuan.
Ketika dunia berbahasa Arab menjadi pusat ilmu pengetahuan, Alhazen dianggap sebagai salah satu bintangnya.
Alhazen menulis lebih dari 100 buku tentang fisika, matematika, dan astronomi. Ia juga dianggap sebagai orang pertama yang menjelaskan bagaimana otak kita menciptakan ilusi kenapa bulan muncul lebih besar di dekat cakrawala.
Karya pertamanya tentang optik telah mengilhami orang-orang besar macam Roger Bacon dan Johannes Kepler berabad-abad kemudian—meski metode ilmiah yang diciptakan oleh Alhazen jauh lebih luas.
Alih-alih mengembangkan teori dari cara-cara abstrak, Alhazen dikenal sebagai peletak metode eksperimen.
Ia sangat menekankan betapa pentingnya uji coba. Salah satu karyanya yang dianggap sebagai kanon berjudul Doubts Against Ptolemy.
Di sana Alhazen menulis:
“Seseorang yang mempelajari buku sains dengan pandangan mengetahui fakta sebenarnya seharusnya mengubah dirinya menjadi lawan dari segala sesuatu yang ia pelajari; ia harus benar-benar menilai bagian utamanya dan juga bagian marginnya, dan menentangnya dari setiap sudut pandang dan segala aspeknya … Jika ia melakukan ini, fakta sebenarnya akan terungkap.”