Edisi Minggu History
(History) Negeri Tandurusa, Bermula dari Perkebunan ‘Tanduk Rusa Cabang Enam’
Masyarakat kelurahan yang terletak di Kecamatan Aertembaga ini menjunjung indahnya semboyang 'Torang Samua Basudara'
Penulis: | Editor: Aldi Ponge
Sejak Jumat umat Muslim bisa melaksanakan Sholat Jumat dengan aman, demikian pada hari Sabtu jemaat Advent bisa melaksanakan ibadah Sabat dan Minggu jemaat KGPM bisa melaksanakan ibadah dengan aman.
"Kerukunan masyarakat dengan beragam latar belakang agama, suku, dan ras di kelurahan ini selalu terjaga. Pemerintah kelurahan kedepan akan tetap berupaya optimal, agar masyarakat bisa tetap rukun dan damai, sebab kondisi itulah yang bisa menopang satu daerah bisa maju,'' kata Lurah Tandurusa Patrick Suharto.
Ia mengaku sangat bangga, sebab adanya Kelurahan Tandurusa masyarakat yang berbeda-beda bisa satu dalam damai, termasuk dari jemaat GMIM, GPDI, hingga Katolik.
"Semuanya bahu membahu untuk membangun kelurahan ini menjadi lebih baik kedepan,'' tukasnya.
Bergandengan Tangan Pasca Terjangan Bandang
Sejak berdiri pada tahun 1954, Kelurahan Tandurusa banyak mengalami musibah. Satu yang paling dahsyat yakni terjadi pada awal tahun 2017 ini. Tepatnya pada 12 Februari, Kelurahan Tandurusa di terjang banjir bandang pada pagi hari.
Banjir bandang tersebut memporak-porandakan seluruh area kelurahan. Banyak rumah yang terendam, dan rusak berat akibat terseret banjir hingga tertutup material tanah.
Beruntung kejadiannya pagi, sehingga tak sampai menimbulkan korban jiwa, sebab masyarakat dengan cepat mengungsi ke tempat yang lebih aman.
"Tak hanya cerita manis yang mengukir berdirinya Kelurahan Tandurusa, tapi ada juga cerita pahitnya, ketika awal tahun ini kampung tercinta kami diterjang banjir bandang. Tak hanya memporak-porandakan seisi kampung, tapi sejarah mencatat akibat peristiwa tersebut, masyarakat mengalami trauma yang luar biasa,'' kata Agus Manari, warga Tandurusa, Kamis (9/11/2017).
Agus adalah salah satu warga yang kala itu sangat berani menghadapi banjir bandang. Ketika air meluap deras dari drainase ke jalan utama dan masuk hingga ke rumah, iaberani masuk ke dalam derasnya air untuk menyingkirkan pohon-pohon yang tertahan.
"Demi menyelamatkan masyarakat lain dari dampak yang lebih buruk, ketika itu saya memberanikan diri untuk mengatasi banjir bandang dengan menyingkirkan pohon hingga material lain, yang memicu derasnya air hingga meluap merusak rumah warga,'' katanya.
Suasana kala itu sangat mencekam, sebab aktivitas masyarakat lumpuh total setelah perkampungan terisolasi. Tak ada lagi jalan keluar lewat jalur darat, kecuali melalui jalur laut untuk mengevakuasi warga yang terluka ke rumah sakit.
"Yang luar biasanya di kampung ini adalah kepedulian masyarakatnya. Meski ditimpa bencana, tapi mereka memiliki rasa tanggungjawab bersama pemerintah untuk saling meringankan beban sesama yang menderita,'' jelasnya.
Semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama untuk bangkit dari keterpurukan.
Seluruh masyarakat dari latar belakang yang berbeda, bahu membahu membersihkan puing-puing sisa bencana dibantu masyarakat dari daerah lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tandurusa_20171113_092426.jpg)