Bolmong - Petani Kedelai Mengeluh Sulitnya Pasarkan Kedelai, Ini Penyebabnya
Kejayaan kedelai di Bolaang Mongondow memang telah memasuki masa senjakala. Banyak petani telah meninggalkan bahan utama tempe dan tahu ini.
Penulis: Finneke | Editor: Siti Nurjanah
"Yah mungkin karena harus diolah dulu yah, makanya pasaran sulit. Hanya untuk pabrik. Sementara tak semua masyarakat mengolahnya. Beda dengan jagung atau padi," ucapnya.
Kepala Bidang Bina Produksi Tanaman Pangan, Holtikultura dan Aneka Tanaman, Dinas Pertanian, Sahrul Dossa mengakui pasaran kedelai di Bolmong memang sulit bagi petani.
Karena pabrik pengolahan kedelai pun hanya dihitung jari.
"Sebenarnya soal pengembangan komoditas kedelai tetap kami lakukan. Seperti penyaluran bibit pajale bagi petani setiap tahun. Tapi memang masalahnya ada di pemasarannya," ujarnya.
Olahan kedelai di Bolmong hanya tahu dan tempe.
Sementara untuk kopi, sangat-sangat jarang.
Produksinya hanya perseorangan yang hanya konsumsi pribadi atau pun jual dalam skala sangat kecil.
"Umumnya tahu tempe, sementara konsumsi makanan ini di sini tak terlalu banyak. Kalau di Jawa banyak yah. Makanya pengaruh di pasarannya. Namun kami terus mengupayakan solusi untuk pemasaran kedelai ini, meski produksinya menurun jauh," ujarnya.
Pada tahun 1988 hingga tahun 2010, kedelai masih eksis di Bolmong.
Ada sekitar 350 hektar kebun kedelai yang tersebar di sembilan kecamatan di Bolmong.
Namun sekarang produksinya menurun jauh.
Data terakhir tahun 2016, luas tanam kedelai 3,096 hektar, luas panen 3,847 hektar dan produksi mencapai 4,993 ton. (fin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-kedelai_20170903_181422.jpg)