Rabu, 3 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bolmong - Petani Kedelai Mengeluh Sulitnya Pasarkan Kedelai, Ini Penyebabnya

Kejayaan kedelai di Bolaang Mongondow memang telah memasuki masa senjakala. Banyak petani telah meninggalkan bahan utama tempe dan tahu ini.

Tayang:
Penulis: Finneke | Editor: Siti Nurjanah
Bibit Bunga
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kejayaan kedelai di Bolaang Mongondow memang telah memasuki masa senjakala. Banyak petani telah meninggalkan bahan utama tempe dan tahu ini.

Namun masih juga ada petani yang bertahan dengan tanaman ini.

Seperti Ahmad Bawuoh, petani kedelai asal Desa Kanaan, Kecamatan Dumoga.

Meski bukan lagi komoditas utama, namun Ahmad masih bertahan.

Ahmad mengaku kesulitan memasarkan hasil kedelai.

Itu pun paling hanya untuk pabrik tahu di Mopuya, tempat biasa mereka memasarkan kedelai mereka.

Sementara untuk pasar lainnya, sulit dan sangat jarang.

"Biasanya jual Rp 6 ribu per kilogram. Memang tergolong murah. Susah juga pasarannya. Cuma jual di pabrik, itu pun tak dapat uang langsung. Nunggu dulu, baru pabrik kasi uang," ujarnya Minggu (3/9).

Dengan sistem pembayaran seperti itu, menyulitkan Ahmad dan petani kedelai lainnya di Desa Kanaan.

Panen terakhir masih ada 20 ton kedelai yang terkumpul dari semua petani di desa.

Mereka harus menunggu, sedangkan kebutuhan sehari-hari mendesak.

"Yah kalau boleh ada pasar yang lebih menjamin hasil pertanian kedelai ini. Tapi memang sekarang kami tak terlalu fokus di situ. Sudah ada jagung yang lebih banyak kami tanam," ujarnya.

Senada dikatakan petani lainnya, Sulaiman.

Produksi kedelai memang tak segampang tanaman lainnya seperti jagung.

Namun Sulaiman mengakui tak sulit menanam ini.

"Yah mungkin karena harus diolah dulu yah, makanya pasaran sulit. Hanya untuk pabrik. Sementara tak semua masyarakat mengolahnya. Beda dengan jagung atau padi," ucapnya.

Kepala Bidang Bina Produksi Tanaman Pangan, Holtikultura dan Aneka Tanaman, Dinas Pertanian, Sahrul Dossa mengakui pasaran kedelai di Bolmong memang sulit bagi petani.

Karena pabrik pengolahan kedelai pun hanya dihitung jari.

"Sebenarnya soal pengembangan komoditas kedelai tetap kami lakukan. Seperti penyaluran bibit pajale bagi petani setiap tahun. Tapi memang masalahnya ada di pemasarannya," ujarnya.

Olahan kedelai di Bolmong hanya tahu dan tempe.

Sementara untuk kopi, sangat-sangat jarang.

Produksinya hanya perseorangan yang hanya konsumsi pribadi atau pun jual dalam skala sangat kecil.

"Umumnya tahu tempe, sementara konsumsi makanan ini di sini tak terlalu banyak. Kalau di Jawa banyak yah. Makanya pengaruh di pasarannya. Namun kami terus mengupayakan solusi untuk pemasaran kedelai ini, meski produksinya menurun jauh," ujarnya.

Pada tahun 1988 hingga tahun 2010, kedelai masih eksis di Bolmong.

Ada sekitar 350 hektar kebun kedelai yang tersebar di sembilan kecamatan di Bolmong.

Namun sekarang produksinya menurun jauh.

Data terakhir tahun 2016, luas tanam kedelai 3,096 hektar, luas panen 3,847 hektar dan produksi mencapai 4,993 ton. (fin)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved