Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Citizen Journalism

(Citizen Journalism) Bertandang ke ‘Rumah Sastra’ Jamal Rahman Iroth

Sebuah resensi imajinatif puisi "Toratakon" karya Jamal Rahman Iroth oleh Hamri Manoppo.

Editor: Aldi Ponge
ISTIMEWA
Buku Torotakon, Kumpulan puisi karya Jamal Rahman Iroth 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Siang itu saya menikmati perjanan istimewa, Kopandakan-Buyat yang jaraknya kurang lebih 70 kilometer ditempuh rata-rata 1,5 jam, saya kemas dalam tempo lima belas menit, menggunakan ‘pesawat’ imajinatif.

Kali ini saya tak merasakan dinginnya udara tepi Danau Mooat. Tak sempat menciumi aroma daun cengkih yang ceria. Tak sempat memandang tanah gundul bekas sergapan tambang.

Tanpa was-was dengan liukan-liukan tajam, serta jurang dan ngarai yang menganga. Karena benak saya terfokus pada ‘rumah sastra’ Jamal di Desa Buyat.

Rumah Sastra Boltim yang dibangun sastrawan muda Jamal Rahman Iroth
Rumah Sastra Boltim yang dibangun sastrawan muda Jamal Rahman Iroth (Facebook Jamal Rahman Iroth)

Sayup kudengar nyanyian ombak Pantai Lakban, riuh cericit burung-burung di Pulau Kumeke.

Ah, indah benar perjalanan imajinasi melintasi lembah Ibu Kota Tutuyan. Memasuki Desa Buyat takjub kupandang singgasana Jamal yang auranya menjulang hingga ke langit.

Riak kecil Danau Luak dan pantul bayang Bukit Torotakon, petani dan penambang bergelayut di tepi jalan, mengais rezeki menyambung hidup.

Saat aku tiba seorang lelaki gagah berdiri sambil berkedip mata pertanda keakraban saat dia bertandang ke rumah telah terjaga. Saat mata beradu ada getar indah membahana seperti mataku beradu dengan para pesohor di negeri ini; Rendra, Sutardji, Emha Ainun Najib atau Taufik Ismail, misalnya.

Aku mendorong daun pintu yang terangkai dari imajinasi kata, sebuah mahligai indah nan megah. Pantas.

Di sinilah Jamal melabuhkan cinta abadi, berkeluarga turun-temurun dari darah Gorontalo-Minahasa, lalu menancapkan tekad bersastra di bumi Totabuan.

Aku berdecak kagum dengan jerih-payahnya membangun 'Rumah Sastra'.

Sebuah rumah impian, perpustakaan abadi, jati diri harkat dan nilai kehidupan.

Aku bahkan lupa mengucap salam, karena mataku sigap melucuti seluruh rumah.

Fondasi dan lantainya kata-kata, tiang-tiangnya naskah teater dan drama, atapnya pias-pias puisi, dindingnya lukisan dan foto-foto indah, lemarinya gundukan novel, dapurnya panggung kehidupan. Ah, Jamal kita sedarah. Sejiwa.

Warga berkunjung ke rumah sastra Boltim di Buyat
Warga berkunjung ke rumah sastra Boltim di Buyat (Facebook Jamal Rahman Iroth)

Saat dekat lemari mataku tertuju pada kitab “Torotakon” sebuah buku baru kau antarkan padaku di malam tak terduga itu.

Lalu aku membuka helai demi helai, empat puluh delapan puisi membawaku hingga jauh melampaui cakrawala.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved