Breaking News
Selasa, 7 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bencana di Sulawesi Utara

Ngerinya Banjir Bandang Tomohon, Mobil dan Sapi Hanyut, Warga Dievakuasi di Atap Rumah

Banjir bandang yang menerjang Kota Tomohon Minggu (19/2) masih terngiang di benak warga.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO/RYO NOOR
Warga berusaha mengevakuasi sebuah mobil yang terseret banjir bandang yang menerjang Tomohon, Minggu (19/2/2017). Hujan yang kembali mengguyur kota ini Senin sore membuat warga was-was akan datangnya banjir bandang susulan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Banjir bandang yang menerjang Kota Tomohon Minggu (19/2) masih terngiang di benak warga.

Di tengah semangat mereka melakukan bersih- bersih Senin (20/2), derasnya arus yang menyeret kayu, mobil, sepeda motor bahkan sapi serasa ada di depan mata.

Terlebih warga Perum Atas Walian II, Kecamatan Tomohon Selatan. Harta benda mereka terendam banjir, bahkan sebagian disapu banjir.

Minder Palendeng, warga Manado yang saat itu bertandang di Perum Atas Walian II misalnya, harus menerima kenyataan bahwa mobil milik kerabatnya dibawa arus banjir.

Mobil itu dipakir di dekat Gereja GMIM Bukit Zaitun Perum Atas Kelurahan Walian II, Kecamatan Tomohon Selatan. Mobil Daihatsu Terios warna merah maron itu tak kuasa menahan kekuatan banjir bandang setinggi kira-kira 1,5 meter.

Sekitar 30 meter mobil hanyut, sebelum tertahan di pohon rambutan. Total ada 6 mobil terendam, 2 di antaranya hanyut dibawa banjir. Untuk sepeda motor 4 unit terendam, dua di antaranya sempat hanyut.

Sore itu, Minder Palendeng bersama keluarga datang membesuk kerabat dekat yang sakit di Perum Atas. Namun tak disangka hujan keras mengguyur dalam hitungan menit, air meninggi. Mobil tak sempat dipindahkan.

"Kalau kita keluar pasti celaka," ungkap Palendeng.

Jootje Pitoy (52), warga Perum Atas mengisahkan derasnya arus banjir. Saking derasnya sempat membentuk pusaran di depan rumahnya.

Air tumpahan dari Bukit Wawo yang ada tepat di atas permukiman warga itu meluncur tak teradang.

"Mobil hanyut, kayu-kayu, ada juga sapi, rumah sampai bergetar," kata dia.

Sejak 2012 tinggal di Perum Atas, belum pernah banjir sebesar ini.

"Sudah 6 kali saya hitung banjir, ini yang terbesar," kata Pitoy.

Roy Montolalu yang juga warga Perum Atas mengungkapkan, terpaksa menjebol langit-langit rumah untuk menyelamatkan diri dari terjangan banjir.

Ia menaikkan dua anaknya, istri serta orangtua di atap rumah.

Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved