Renungan Minggu
Tanpa Kasih Setia, Agama Menjadi Sia-sia
Karena hendak menunjukkan bahwa manusia harus lebih siap untuk mendengar daripada siap untuk berbicara.
Penulis: | Editor:
Oleh: Pendeta Dr Nico Gara MA
MENGAPA Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga dan bukan sebaliknya dua mulut dan satu telinga?
Karena hendak menunjukkan bahwa manusia harus lebih siap untuk mendengar daripada siap untuk berbicara.
Bagian pertama bacaan kita ini juga hendak mengatakan bahwa semangat Kristiani yang baik adalah receiptive, siap untuk mendengar.
Maksudnya adalah siap menerima seperti benih yang jatuh ditanah yang baik (band. Matius 13:3 dstnya).
Nasihat ini bukan hanya penting untuk hubungan kita dengan Tuhan tetapi juga dengan sesama kita manusia. Ada orang bijak mengatakan begini, "bagaimana mungkin kita mengatakan dengar-dengaran kepada Tuhan Allah yang tidak kelihatan, kalau terhadap sesama yang kelihatan kita tidak bersedia untuk mendengarkannya?".
Namun berteori tentang mendengar memang tidak segampang mempraktekkannya. Buktinya kita bisa berjam-jam berbicara tanpa bosan.
Tetapi ketika mendengarkan orang berbicara, baru sekitar limabelas menit sudah tertanduk-tanduk mengantuk.
Karena itu menahan diri untuk lebih cepat mendengar daripada berbicara, merupakan salah satu bentuk kontrol diri yang penting.
Hal berikut yang diminta dari kita untuk dikontrol adalah amarah. Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah.
Amarah sering dipicu oleh pertarungan keinginan, pertentangan kepentingan-kepentingan pribadi, suatu perjuangan demi kekuasaan. Amarah adalah tanda bahwa kita tidak menghormati Allah yang dibuktikan dengan tidak menghormati sesama yang kita marahi.
Sebab kalau kita sungguh-sungguh menghormati seseorang, maka sulit bagi kita untuk memarahi orang itu. Karena itu jika kita sungguh-sungguh dan menghormati dan mengasihi Allah, hal menahan diri dari amarah perlu kita terapkan dalam hidup sehari-hari.
Namun demikian sikap hidup Kristiani yang baik bukanlah sekedar kesalehan pribadi berupa kontrol diri.
Orang Kristen yang saleh dan taat beribadah, tidak hanya beribadah untuk memuaskan dirinya sendiri dengan mendengarkan firman Tuhan lalu mampu mengontrol diri.
Karena itu nilai praktis dari pengunjung ibadah gereja, menurut Yakobus, hanya dapat direalisasikan ketika firman yang didengarkan menjadi firman dalam tindakan.