"Saya Minta Kadishub Cepat Pulang"
Penjabat Walikota Manado Royke Roring meminta agar Kepala Dinas Perhubungan Manado segera kembali ke Kota Manado.
Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Penjabat Walikota Manado Royke Roring meminta agar Kepala Dinas Perhubungan Manado segera kembali ke Kota Manado.
Hal tersebut bukan tidak ada sebab, karena mulai tanggal 1 April BBM jenis Solar dan Premium mengalami penurunan Rp 500. Tentu penurunan tersebut akan mempengaruhi tarif angkutan kota.
"Saya meminta Kadis Perhubungan cepat pulang dari Jakarta untuk mengkaji harga BBM sehingga tarif angkot ikut turun. Yang jelas seberapa pun penurunan BBM tetap kami akan menurunkan tarif angkot,"kata Walikota.
Sementara itu Kadis Perhubungan Vecky Koagow yang dihubungi via telpon menjelaskan mereka belum bisa memastikan berapa tarif yang akan diturunkan. Sebab mereka akan mengundang organda dan pihak terkait untuk mencari keputusan terbaik secara bersama - sama.
"Memang saya sudah dihubungi Pak Walikota, dan yang pasti kami akan menurunkan tarif angkot dalam waktu dekat ini,"jelas Kadis
Menurut dia setelah beberapa kali tidak diturunkan tarif angkot pada beberapa kali perubahan harga BBM cukup mempengaruhi perekonomian masyarakat kota. Banyak yang mengeluh dengan harga saat ini, apalagi ada juga sopir angkot nakal yang tidak mengembalikan atau melebihkan tarif angkot dengan berbagai alasan.
"Jadi kalau turun mulai Rp 500 sampai Rp 1000 tarifnya pasti ikut turun," tegas Koagow.
Sementara itu Ronny Suan (40) Sopir angkot trayek Malalayang Pasar 45 mengatakan, jika terjadi penurunan tarif maka akan semakin banyak sopir yang tersiksa. Apalagi menurut dia penurunan tarif angkot harus diikuti dengan penurunan harga barang di pasar.
"Saat sekarang kita sopir semakin kesulitan, sudah dirubah satu jalur masih mau menurunkan tarif nanti jadi apa kita kedepan. Kami mau asalkan harga beras, dan harga bahan pokok dipasar juga ikut turun,"kata Ronny dengan nada yang tinggi.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Nanang Usop (39) sopir angkot jurusan Karombasan - Malalayang. Menurut dia tidak akan mudah sopir menerima penurunan tarif angkot, apalagi jika harga bahan pokok terus meningkat.
"Tak mungkin, saya sendiri tidak akan menerima jika tarif angkot diturunkan. Sedangkan saat ini sehari penghasilan kami paling besar Rp 100 ribu, apalagi masih mau setor ke pemilik mobil,"jelasnya.
Berpindah dari sopir angkot Tribun Manado coba mewawancarai Vini (30) penumpang yang setia menggunakan sarana angkutan tersebut. Menurut dia penurunan harga BBM tersebut memang layak dilakukan, apalagi ini sudah ketiga kalinya mengalami penurunan.
"Tolong agar segera diturunkan, saya bukan pengamat sosial tapi kalau seperti ini terus menerus maka akan menjadi pemicu masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor roda dua dan empat,"jelasnya.
Selain itu ia juga meminta agar pemerintah benar - bernar serius menyikapi hal tersebut. Apalagi selama ini pertimbangan masyarakat ekonomi baik membuat tarif angkot tidak turun.
"Tolong diturunkan, dan jangan lagi seperti kemarin sedikit naik sedikit turun. Jadinya warga bingung dan tak tahu apa tujuan naik turunnya tarif angkot dan BBM,"jelasnya.