Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Menembus Desa Goyo di Bolmut, Ke Pasar Butuh Waktu 4 Jam

Butuh perjuangan keras untuk menembus Desa Goyo. Terbayang, warganya pun harus berjuang keras dalam menjalani hidup.

Tayang:
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/FERDINAND RANTI
Desa Goyo Bolmut, banyak transmigran asal Jawa memilih balik kampung. 

"Rasanya tidak ada bantuan sampai di sini yang kami rasakan. Katanya ada bantuan Alokasi Dana Desa (ADD), namun rasanya kami ini belum pernah menikmati," katanya.

Dia pun menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Dia hanya mengandalkan berkebun. Namun untuk menjual hasil panennya, dia tak memiliki alat transportasi.

"Ya kalau saya mau jual hasil pertanian, saya jalan kaki, menjualnya ke Pasar Olot," katanya dengan mimik sedih. Maklum, lokasi Pasar Olot begitu jauh dan berliku untuk menembusnya.

Untuk ke pasar itu, masyarakat setempat harus naik ojek dengan tarif Rp 30 ribu. Jadi total pulang pergi membayar Rp 60 ribu.

Namun jika ingin berhemat bisa dengan jalan kaki. Waktu tempuhnya sampai empat jam.

Jadi, besaran duit penjualan hasil kebun pun tak sebanding dengan biaya ke pasar.

"Kalau ada pemerintah yang datang ke sini, kami sangat senang. Yang ada dalam pikiran kami pasti ada bantuan," ungkapnya.

Dia pun meminta pemerintah jangan janji terus. "Janji tinggal janji, kalau jalan aspal, terlalu indah mungkin (mimpi indah), pemerintah tidak pernah kemari," tambahnya.

Begitupun kurangnya MCK di lokasi itu. Beberapa warga tidak memiliki kamar mandi atau tempat buang hajat (toilet).

Sejumlah ibu yang berkumpul saat berbincang dengan Tribun Manado mengaku buang air besar di sungai karena air sungai mengalir. Begitu juga untuk mandi, mereka menggunakan air sungai.

Senada dikatakan Suprapto Atilo, warga setempat yang mengharapkan jalan menuju desanya itu dibangun pemerintah.

Selain infrastruktur jalan, pembangunan fasilitas publik lainnya juga masih sangat dibutuhkan masyarakat di desa yang pernah ditinggali para transmigran asal Pulau Jawa itu.

Para transmigran hengkang juga karena alasan jalan desa yang rusak dan desa yang terpencil.

Hingga kini, hanya satu sekolah yakni Sekolah Dasar (SD), Puskesmas Pembantu (Pustu), Balai Desa dan Musala merupakan hasil karya pemerintah.

"Berharap dengan sangat agar pemerintah daerah memberi perhatian pada kami, terutama pembangunan jalan dan jembatan," ujarnya.

Halaman 2/3
Tags
Bolmut
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved