Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

GPdI Youth Jambore 2015

Pemuda GPdI, Milikilah Iman Seperti Bartimeus

Ribuan Pemuda GPdI se-Sulawesi Utara larut dalam elegi pengakuan dosa pada Altar Call saat pembukaan Youth Jambore 2015, Senin (29/6) .

Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS
Suasana altar call saat pembukaan Jambore GPdI, Senin (29/6) 

Laporan wartawan Tribun Manado Arthur Rompis

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -  Ribuan Pemuda GPdI se-Sulawesi Utara larut dalam elegi pengakuan dosa pada Altar Call saat pembukaan Youth Jambore 2015, Senin (29/6) di Bumi Perkemahan Pantekosta Desa Buha Kecamatan Mapanget.

Elegi itu mewujud dalam doa, tangis serta jeritan para pemuda selama sekitar 15 menit Altar Call digelar.

"Ayo para pemuda, akuilah dosamu di hadapan Tuhan," seru Ketua 1 Majelis Pusat GPdI JE Awondatu yang memimpin ibadah pembukaan.

Firman yang disampaikan Awondatu dari kitab Markus memang setajam pedang. Ditingkahi lagu pujian pengakuan dosa, suasana begitu syahdu, hingga mendirikan bulu kuduk. Beberapa pemuda bahkan sempat jatuh ke lantai.

Acara Altar Call diakhiri dengan prosesi doa, dimana sejumlah pendeta mendoakan satu per satu para pemuda. Hal itu dilakukan dengan menyentuhkan tangan di kepala.

Satu dua pemuda sempat meronta saat didoakan. Ketika tenang, mereka memuji Tuhan dengan berlinangan air mata.

"Terima kasih Tuhan," kata Jilia, salah satu pemuda.

Jilia mengaku bertengkar hebat dengan orangtuanya sehari sebelum pergi berkemah. Bahkan ia sempat mengecam orangtuanya. "Saya katakan Mama Papa tak adil," ujarnya.

Maksud sesungguhnya Jilia ikut perkemahan itu adalah untuk bertemu dengan teman-temannya dari daerah lain.

Namun pada acara pembukaan itu, ia bertemu dengan Tuhan. "Firman Tuhan menyadarkan saya, bahwa Tuhan itu berkorban untuk manusia, ada banyak pengorbanan di dunia ini, salah satunya pengorbanan orangtua. Sedih rasanya hati saya telah melawan orangtua," ujarnya.

Jilia mengatakan, hal pertama yang akan dilakukannya sehabis perkemahan adalah minta ampun pada kedua orangtuanya.

Ketua 1 Majelis pusat GPdI JE Awondatu dalam khotbahnya meminta para pemuda mencontohi Bartimeus.

Bartimeus, kata Awondatu, buta namun memiliki iman yang teguh. Meski terhalang berbagai rintangan, ia mau mencari Tuhan.

Ketika Tuhan ditemui, Bartimeus dengan sungguh meminta Tuhan menyembuhkannya. "Dan akhirnya Tuhan menyembuhkannya," katanya.

Halaman 1/2
Tags
GPdI
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved