Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bencana di Sulut

Koessoy Nilai Drainase Manado Amburadul

Drainase merupakan komponen penting dalam pembangunan sebuah kota.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Drainase merupakan komponen penting dalam pembangunan sebuah kota. Maka itu, penting penataan drainase dilakukan dengan perencanaan matang. Sayangnya, penataan drainase di Kota Manado masih amburadul.

Demikian Kepala Bidang Perencanaan Wilayah Bappeda Sulut Herman Koessoy ungkapkan, Kamis (19/2). "Karena Kota Manado belum punya masterplan (rancangan utama) drainase," katanya.

Karena tak ada rancangan utama drainase, dampaknya cukup besar. Koessoy mengaku tak heran jalan di Manado tak berumur panjang karena dua musuh utama jalan, genangan air dan kendaraan berbobot berat, kurang diperhitungkan.

"Air sebenarnya tak perlu menggenang kalau drainasenya bisa menampung, air dari jalan mengalir ke drainase. Kalau menggenang sudah tentu merusak badan jalan," katanya.

Koessoy menyebut, rancangan drainase menjadi semacam buku pintar atau sebagai panduan membangun drainase. Dari rancangan itu bisa ditentukan kelas-kelas drainase baik tipe A, B, atau C, disesuaikan dengan lokasinya. Berkali-kali ganti kepala dinas pekerjaan umum pun tak masalah selama ada panduan pembangunanannya.

Namun, lanjut dia, kenyataannya pembangunan drainase di Kota Manado asal bikin. "Aliran airnya tidak tahu kemana. Seringkali kan di lapangan yang membangun drainase bingung mau dibangun pembuangannya kemana. Karena tidak ada panduannya," ungkapnya.

Koessoy mendapati ada kesan pembangunan drainase berfokus proyek. Artinya, yang penting sudah ada dana dari APBD kemudian dikerjakan. Lagipula pembangunan drainase bukan harus dibikin sekaligus satu kota, tapi dibuat bertahap per kecamatan atau per kelurahan, tergantung penataan dana di APBD.

Ia punya harapan, pembangunan drainase ke depan menggunakan metode pabrik. Bahan-bahan drainase dibangun di luar kota kemudian nanti bahan yang sudah jadi tinggal dibawa ke lokasi drainase yang akan dibangun. Cara ini seperti yang diterapkan Singapura.
"Kalau kita sekarang kan bikin drainase bahan-bahannya dihambur di pinggir jalan. Semen, pasir, batu dicampur di pinggir jalan baru dibangun. Sudah mengganggu lalu lintas, pekerjaan juga dipengaruhi keadaan cuaca," katanya.

Ke depan Herman berharap pemerintah kota bisa menyiapkan dana untuk membuat masterplan drainase.
Namun pernyataan Koessoy ditentang Kepala Dinas PU Manado Ferry Siwi. "Amburadul bagaimana? Yang ada dan yang sebenarnya semua drainase itu tersumbat, masih dijadikan tempat pembuangan sampah, termasuk mengalami sedimentasi, dan inilah yang sementara kami tangani," tegasnya.

Diakui Ferry, pascabanjir bandang, sepanjang 23,8 kilometer drainase di Manado mengalami kerusakan parah dan penyumbatan akibat sampah dan sedimentasi. "Saat ini yang pemerintah kota butuhkan bukan statement saja, tapi bantuan, baik pemikiran maupun dana untuk secepatnya memulihkan kondisi kota termasuk infrastruktur yang terimbas," tuturnya.

Sesuai hitungan Dinas PU Manado, kerugian dari jalan dan drainase yang rusk akibat banjir menyentuh hingga angka Rp 100 miliar lebih. Kerugian tersebut sangat besar dan anggaran  pemerintah kota tidak cukup menanggulangi. Maka itu, butuh dukungan pihak lain termasuk dari pemerintah provinsi dan pusat.

Siwi melanjutkan, saat ini pihaknya masih menunggu hasil verifikasi BNPB RI terhadap data kerugian dan kerusakan infrastruktur di Manado. Hasil verifikasi itu untuk mengetahui berapa besar dana bantuan yang bisa diterima untuk perbaikan infrastruktur baik untuk jalan maupun drainase.

Sambil menunggu kepastian besaran dana bantuan untuk perbaikan, saat ini pihaknya sudah turun untuk mengeruk drainase yang tersumbat sampah dan sedimentasi. "Saat ini pengerukan drainase sudah dan sementara dilakukan. Bukan waktu yang singkat. Semua butuh waktu dan dana, jadi marilah bersama bekerja bukan hanya mengkritik," tegasnya.

Untuk pengerukan drainase yang sementara dilakukan, Dinas PU Manado memanfaatkan dana perbaikan infrastruktur yang sudah tertata dalam APBD 2014 sebesar Rp 1,2 miliar. Jumlah anggaran itu untuk drainase dan menutup lubang di beberapa ruas jalan penting, sambil menunggu kucuran dana bantuan dari pemerintah pusat.

Kepala Bappeda Manado Peter Assa pekan lalu mengakui 90 persen drainase di Manado harus didesain kembali karena dibangun tak sesuai standar. "Sebagian besar drainase di Manado oleh kontraktor dibangun asal-asalan. Kasus paling sering ditemui yaitu pembangunan drainase dengan model tutup botol, yaitu model mengecil di ujung sehingga mengakibatkan penyumbatan. Makanya perlu didesain kembali dan diubah ke bentuk sebenarnya," tuturnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved