Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Akhir Tahun

Indonesia Belum Kiamat!

RIBUT-ribut bumi mau kiamat.

Tayang:
Editor: Andrew_Pattymahu

Bagaimana tidak akan masuk neraka ? cara kerja di antara mereka sebagai Dewan Perwakilan Rakyat saja, masih hanya mengutamakan nilai materialistik.

Perjuangan kepentingan publik ditanggalkan, mereka hanya pandai bersandiwara dan pura-pura lupa ingatan atas semua aspirasi yang disampaikan dari rakyat.

Mereka pekerja Dewan terhormat harusnya menjalankan fungsi legislasi, bertugas membuat Undang-undang atau Peraturan Daerah demi tergapainya sebuah negara hukum yang ideal.

Tapi malahan tahun 2012, masih terlihat ada yang memilih kunjungan ke luar daerah, atau mancanegara tanpa tujuan jelas.

Hasilnya, hanya berikan rasa gembira bagi gerombolan ‘Dewan Terhormat’, karena bisa plesiran bebas kemana saja pakai uang rakyat.

Produk hukum yang dihasilkannya pun ironis, tidak capai target yang telah ditentukan. Hanya sebatas retorika, utopia yang tak terjangkau. Efeknya, atmosfir negara Indonesia ini seakan masih mengalami ‘kekosongan hukum’.

Sisi lain, pakar dan praktisi ekonomi yang tergabung dalam Kamar Dagang Indonesia (KADIN) mengungkapkan kerisauan. Bahwa tahun 2012, ekonomi Indonesia masih sedang mengalami kesulitan.

Inikah yang dinamakan kiamat ekonomi Indonesia ?, tidaklah, ini belum tamat. Insyaallah, Tuhan masih berikan kesempatan ke depan di tahun 2013. Indonesia bisa bangkit, tidak lagi terpuruk kondisi ekonominya.

Asal saja, para pemilik modal besar, yang punya 'gurita konglomerasi' mau berlaku adil, tidak serakah menghisap dengan gaya ekonomi liberalismenya.

Cobalah membuka kembali gagasan ekonomi yang di sampaikan oleh seorang negarawan Republik Indonesia, Tan Malaka, yang disinggung dalam karyanya, Merdeka 100 Persen: Tiga Percakapan Ekonomi Politik, yang menekankan penerapan ekonomi sosialis.

Kata Tan Malaka, ekonomi sosialis itu ekonomi teratur, produksi diimbangi dengan konsumsi, bukan lewat jalan anarkis kapitalis liberal.

Ekonomi sosialis itu mendasarkan pada prinsip sama-rata dan tolong-menolong, yang tataran praktisnya berwajah koperasi seperti yang digagas oleh Muhammad Hatta.

Lain hal lagi, kenapa KADIN mengingatkan Ekonomi Indonesia masih di rundung kegalauan. Lihat saja, kelakuan para pejabat negara kita, belum ada yang mencerminkan seorang negarawan, kering tauladan.

Negara ini masih dominan dikuasi ‘raja-raja kecut’ yang kerjanya menguasai uang rakyat untuk dikorup.

Misalkan saja, contoh kecil yang terjadi, kebijakan pendidikan Indonesia yang ditelurkan oleh pemegang kuasa pemerintahan masih berorientasi proyek industri, sebagai ladang untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved