Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan

Puasa Punya Asuransi Pahala

Beruntunglah bagi mereka yang tahun 2012 ini dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan karena bagi siapa saja yang khusuk (serius)

Tayang:
Editor: Andrew_Pattymahu

“Puasa dikenal dalam berbagai ajaran agama. Ini benar-benar menyehatkan, dilakukan karena bisa mengurangi kerusakan berbagai sel akibat oksidan karena hasil pembakaran makanan,” katanya di Semarang. 

Karena itu, bagaimana untuk peroleh puasa yang benar, mencapai tingkatan yang sempurna. Sudah lama Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan yaitu Puasa ‘Aam sering disebut puasa umum atau orang awam. Jenis puasa ini sebatas menahan diri dari makan, minum, hubungan biologis.

Sementara berikutnya, Puasa Khusus yakni seperti puasa ‘Aam, tetapi tambahnya, menahan semua alat indera dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti perbuatan yang kurang baik, kurang pantas, yang menyinggung atau menyakiti orang lain, atau yang sia-sia dan tak berguna.

Berikutnya, Puasa Khususil Khusus atau puasa istimewa terkhusus ada tambahan dengan puasa hati. Jenis puasa tingkatan ini menghindari dari memikirkan, mengkhayalkan atau membayangkan hal-hal yang sifatnya hedonisme duniawi.

Menjalani puasa berarti juga kita mampu melebur ke semua lapisan masyarakat termasuk warga akar rumput. Merasakan bagaimana menjadi orang yang hidup sederhana, bahkan masuk kedalam kehidupan orang yang penuh keterbatasan materi.

Ada beberapa orang yang kurang beruntung, untuk memenuhi makan dalam keseharian teramat sulit. Sehari saja ada yang hanya makan sehari, itu pun kalau ia mujur sedang memperoleh rezeki.

Melalui puasa, kita pun dapat rasakan bagaimana orang yang hidup hanya makan seadanya penuh berkecukupan. Dari sinilah, rasa solidaritas kebersamaan kita tumbuh.

Bangsa dan negara kita sekarang sedang mengalami krisis solidaritas, masing-masing memperkuat egonya demi kesenangan pribadi maupun kelompoknya. Lewat puasa kita dapat belajar menumbuhkembangkan sikap solidaritas satu rasa dalam kebersamaan.

Dimensi ini akan menjadikan kehidupan kita lebih bernilai sosial, karena di puasa dianjurkan kita beramal sedekah. Menyisihkan kelebihan kita untuk ditransfer, kepada kaum-kaum yang kurang beruntung.

Tidak ada cerita orang bersedekah akan jatuh hina, miskin dan tertindas. Sebaliknya, orang memberi belas kasih akan masuk sebagai orang yang bermartabat berbudi luhur. Membudayakan sedekah, maka otomatis turut serta menciptakan penegakan keadilan sosial.

Kita punya cahaya ilmu terang benderang sedekahkan kepada orang yang masih dalam keadaan gelap gulita. Kita memiliki harta berlebih, berbagilah kepada kaum yang tidak berpunya miskin harta, agar ada sebuah tenaga beli yang kuat, mampu menjalankan roda ekonomi bangsa.

Bapak bangsa kita, Mohammad Hatta, dalam karya Beberapa Fasal Ekonomi: Djalan ke Ekonomi dan Pembangunan (1960), menjelaskan, "Kalau rakyat sangat miskin, tenaga buat membeli tidak ada, sehingga pasar pertukaran barang-barang industri dalam negeri sangat sempit."

Memberi ikhlas berarti melancarkan alur sistem kehidupan dan menciptakan sebuah kedamaian masyarakat yang penuh cinta kasih. Langkah ini dapat diperoleh melalui puasa yang mampu menjadi media kita untuk belajar menjadi orang yang penghasih dan penyayang.

Itulah hakikat dalam beragama Islam yang sesungguhnya. Jangan sampai kita buta akan hakikat berislam itu apa. Mantan Wakil Presiden kita, Mohammad Hatta pernah bercerita dalam sebuah karyanya, Islam dan Masyarakat (1955).
"Ibadat dan perbuatan orang Islam di atas dunia hendaklah sesuai dengan sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan yang Maha Esa: Pengasih dan Penyayang serta Adil dan selalu berdiri sendiri di atas jalan yang benar. Penjelmaan dari sifat pengasih dan penyayang Tuhan itu ialah persaudaraan. Persaudaraan antara orang sebangsa dan antara segala bangsa. Betapa juga besarnya perbedaan paham antara seseorang dengan seorang, antara partai dengan partai tentang berbagai masalah hidup, persatuan bangsa tetap terpelihara, rasa persaudaraan tetap berkuasa. Selanjutnya persaudaraan segala bangsa hendaklah menjadi tujuan. Hanya di atas persaudaraan itulah bisa tercapai rukun dan damai dalam pergaulan internasional."

Itulah intisari dari berislam dalam pengertian Mohammad Hatta, pria kelahiran Bukit Tinggi, 12 Agustus 1902. Curahan religuitasnya mampu memberikan pencerahan akan posisi apa itu Islam yang sesungguhnya. Mungkin kita selama ini hanyalah mengenal Islam itu sebuah aturan kehidupan bagi umat manusia yang diturunkan oleh Allah melalui Muhammad SAW. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved