Terkait Penyelamatan Tanaman Kelapa, Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Beri Tanggapan

Terkait Penyelamatan Tanaman Kelapa, Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Beri Tanggapan.

Terkait Penyelamatan Tanaman Kelapa, Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Beri Tanggapan
ist
Pastor Joy Derry (kanan) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pastor Joy Derry, Ketua Keuskupan Manado memberikan tanggapannya soal tanaman kelapa. Ia mengirim tulisannya kepada Tribun Manado dengan judul "Save Nyiur Melambai: Pohon Berkat yang terabaikan".

"Sebelum mengulas lebih jauh tentang program “Save Nyiur Melambai”, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu pengertiannya. Menurut Bahasa inggris kata to save berarti menyelamatkan, menyimpan, menabung, mengumpulkan. Kata “Save” disini dipakai untuk menunjuk pada sebuah gerakan penyelamatan atau gerakan untuk menyelamatkan, sehingga kata Save dimengerti sebagai usaha bersama untuk menyelamatkan. Kata “Save” dihubungkan dengan  Arah dasar kerasulan PSE KWI 2018-2022 yaitu gerakan bersama melindungi dan mengelo la sumber Hak Ekonomi," katanya

Mengenai frase “Nyiur Melambai” sendiri menunjuk pada keadaan geografis di Provinsi Sulawesi Utara yang didominasi tanaman kelapa (tumbuhan palem yang berbatang tinggi, buahnya tertutup sabut dan tempurung yang keras, di dalamnya terdapat daging yang mengandung santan dan air), baik dari kawasan pinggiran pantai hingga daerah pegunungan. Daerah Nyiur Melambai atau daerah kelapa tapi masyarakat belum optimal memanfaatkan kelapa sebagai sumber penghidupan demi meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

"Jadi Save Nyiur Melambai berarti Gerakan bersama melindungi dan mengelola tanaman Kelapa sebagai sumber hak ekonomi masyarakat. Atau Gerakan bersama melindungi dan mengelola daerah kelapa sebagai sumber hak ekonomi masyarakat Sulawesi Utara," ujarnya.

Ia mengatakan, Komisi PSE Keuskupan Manado mengangkat Save Nyiur Melambai menjadi Pilot Projet 2019 - 2022. Save Nyiur Melambai menjadi Gerakan Perlindungan dan Pengelolaan tanaman kelapa sebagai sumber Hak Ekonomi masyarakat Lokal di Wilayah Keuskupan Manado. 

"Hal ini dipacu oleh realitas bahwa Daerah Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah adalah  daerah kelapa atau daerah nyiur melambai. Masyarakat senang dan bangga dapat menikmati manfaat pohon kelapa secara langsung seperti minum air dan makan daging kelapa muda," ujarnya.

Ia menjelaskan, masyarakat sudah terbiasa mendapat banyak uang dengan menjual langsung biji kelapa atau dalam bentuk kopra. Ketidakstabilan harga kopra dalam dua decade terakhir membawa masyarakat tidak lagi bangga dengan pohon kelapa karena harganya anjlok sampai menembus Rp 5000/kg. 

"Harga buah kelapa/kopra yang anjlok memacu terjadinya pengalihan kepemilikan dan fungsi lahan kelapa. Masyarakat begitu mudah mengalihkan kepemilikan lahan kelapa atau menebang pohon kelapa untuk diganti dengan tanaman lain," ujarnya.

Padahal katanya bila masyarakat meliliki pengetahuan dan ketrampilan mengelola potensi tanaman kelapa dan daerah kelapa dengan baik maka masyarakat dapat memproduksi beragam produk olahan dari pohon kelapa menjadi sumber penghidupan (ekonomi). Kebutuhan petani kelapa akan uang tunai cepat memicu petani menggadaikan pohon kelapa kepada tukang ijon, atau menjual langsung kebun kelapanya sehingga semakin banyak petani tidak lagi menikmati hasil kelapanya. 

"Saat ini bahwa petani kelapa semakin tidak bersemangat menanam dan merawat kebun kelapanya," katanya.

Halaman
1234
Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved