AIDS Tewaskan 46 Warga Sangihe: Puluhan Orang Jalani Pengobatan

Acquired immune deficiency syndrome atau AIDS menjadi momok di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

AIDS Tewaskan 46 Warga Sangihe: Puluhan Orang Jalani Pengobatan
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
SN saat Ikut Pengobatan HIV/AIDS bersama anaknya 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Acquired immune deficiency syndrome atau AIDS menjadi momok di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sudah 46 orang meninggal dunia, 27 warga lainnya dinyatakan positif human immunodeficiency virus (HIV/orang terinfeksi virus AIDS).

Dinas Kesehatan Kabupaten Sangihe mencatat sudah ada 73 penderita HIV/AIDS sejak 2014 hingga Oktober 2018. "Untuk tahun 2018 yang aktif berobat ada 27 penderita. Sementara yang sebagian besar sudah meninggal sejak 2014," kata Kadis Kesehatan Sangihe melalui Kasie Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Ronald Tanod kepada tribunmanado.co.id, Kamis (15/11/2018).

Kata Tanod, menambahkan, sebagian besar penderita AIDS sudah meninggal. "Untuk obat memang sementara ini hanya tersedia di RSUP Prof Kandou karena di Sangihe belum memiliki klinik voluntary counseling and testing atau VCT. “Tetapi untuk penyaluran obat dan memudahkan akses, selama ini, penderita mengambil obat di Dinkes Sangihe. Karena untuk obatnya didistribusi ke Dinkes sesuai jumlah penderita," ujar dia.

Menurutnya, untuk penderita yang ada di Sangihe, sebagian besar memiliki riwayat pernah bekerja di daerah Papua. "Iya di pertambangan, ada juga penderita wanita yang ikut tertular dari suaminya yang terlebih dahulu positif," kata Tanod.

Ia mengatakan, kalau ada terjangkiti, Dinkes melakukan konseling dengan petugas. “Program kami semua, sementara berobat dan obatnya gratis,” katanya.

Sementara itu, pantuan di RS Ratumbuisang Sario Manado, seorang ibu nampak menggendong bayi turun dari mobil. Ibu dan bayi itu menuju ruang registrasi.
Ada juga seorang anak kecil yang ikut bersama ibu dan bayi. Ibu itu berinisial SN (32), warga Sangihe yang menderita HIV/AIDS. Ia datang membawa anaknya yang masih berusia 3 bulan.

Ia datang didampingi oleh ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulut Jull Takaliuang. Usai mendaftar, mereka kemudian masuk ke ruang Poliklinik Anak. "Belum bisa diperiksa, lantaran masih 3 bulan, nanti tunggu 18 bulan baru bisa diperiksa, begitu kata dokter, tapi kondisi bayi sehat," kata SN usai memeriksakan bayinya.

Ia juga memeriksakan anak yang satu. "Kalau positif, saya akan lakukan pengobatan," jelasnya. Sedangkan anaknya yang masih berusia 5 tahun dinyatakan negatid dari virus yang menyerang kekebalan tubuh itu. "Kalau anak saya ini sudah enam kali diperiksa tapi negatif," jelasnya.

SN menceritakan, awalnya terkena infeksi HIV/AIDS dari suami yang sekarang sudah meninggal dunia. "Waktu itu, suami ikut ke Nabire (Papua) untuk bekerja di tambang emas, sempat beberapa kali balik," kata dia.

Namun ia tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh suami di sana. Akhirnya pada April 2015, kondisi suami drop. "Dokter meminta periksa darah. Kemudian diketahui positif HIV/AIDS," kata dia.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved