Pnt Heard Runtuwene Harap Retel GMIM Jadi Andalan Gereja di Masa Datang

Sebanyak 40 peserta pemilihan remaja teladan (Retel) se-GMIM menjalani masa karantiba di Home Stay Perum Uluindano, Kota Tomohon.

Pnt Heard Runtuwene Harap Retel GMIM Jadi Andalan Gereja di Masa Datang
FACEBOOK
Sebanyak 40 peserta pemilihan remaja teladan (Retel) se-GMIM menjalani masa karantiba di Home Stay Perum Uluindano, Kota Tomohon. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Andrew Alexander Pattymahu

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO -  Sebanyak 40 peserta pemilihan remaja teladan (Retel) se-GMIM menjalani masa karantiba di Home Stay Perum Uluindano, Kota Tomohon.

Salah satu kegiatan dalam karantina adalah membuat karya tulis yang ditulis tangan dan dimasukkan sebelum karantina berlangsung.

Karya Tulis dipresentasikan dengan LCD dalam bentuk power point. Presentasi peserta dinilai dan ditanggapi oleh 3 pembahas, yakni Dr Diane Pioh, Doktor Pinky Saerang dan Pnt Heard Runtuwene.

Tema karya tulis adalah Gereja Kontemporer dan Gereja Konvensional. Para peserta membahas dalam pandangan masing-masing sesuai dengan pemahaman dan pustaka yang berhasil didapat baik dari buku maupun info internet.

Bagi para peserta gereja kontemporer dan konvensional banyak lebih dan kurangnya. Kontemporer menurut tulisan kebanyakan memuji tentang kreatifitas ibadah yang sesuai jaman ‘now’ serta ritual ibadah yang lebih ‘hidup’ menurut mereka. Sedangkan untuk gereja konvensional dipuji karena lebih tersistem atau tersusun baik dari hal organisasi maupun bentuk peribadatannya.

Dari karya tulis disampaikan bahwa GMIM sebagai gereja Calvinis harus berbenah untuk mengatasi laju faham sekularisasi agama yang banyak muncul saat ini. Banyak teman-teman remaja mereka sudah cukup banyak terlibat dengan aktuivitas pelayanan gereja di luar GMIM.

Pengaruh dogma dan ajaran yang tak sesuai GMIM harus diantisipasi agar tak merasuki pemahaman remaja GMIM dalam bergereja. Apalagi sudah yang banyak terlibat dengan gerakan Oikomenis dengan banyak gereja dengan berbagai bentuk ibadah, organisasi serta dogma dan ajaran yang berbeda.

Bagi peserta remaja teladan, kontemporer dan konvensional juga harus memperbaiki hal-hal yang penting untuk diubah agar sesuai dengan tugas dan pangilannya yaitu memberitakan kasih Kristus. Keluar dengan memberitakan injil, tidak hanya ekslusif pada aturan masing-masing.

Dari tanggapan para penilai didapati bahwa banyak peserta belum menyusun karya tulis sesuai aturan penulisan yang ada. Seperti sistematika penulisan, daftar pustaka serta kelengkapan info yang sesuai dengan tujuan penulisan.

Beberapa peserta juga yang hanya membaca materi, padahal ada fasilitas LCD yang dipakai untuk penggunaan power point yang telah disiapkan.

Dari hasil presentasi Karya Tulis seluruh peserta 20 pria dan 20 perempuan, rata-rata sudah berani menyampaikan ide mereka bagi kemajuan bergereja, khususnya kebutuhan pelayanan remaja GMIM.

Runtuwene salah satu pembimbing di masa karantina tersebut, Kamis (28/6/2018) menuturkan seluruh peserta mengikuti dengan antusias masa karantina yang digelar baru-baru ini. "Saya bangga semangat remaja GMIM masa kini," ujarnya.

Ia berharap akan terpilih retel yang bisa diandalkan gereja di masa datang. "Semoga mereka ini akan menjadi unjuk tombak GMIM di kemudian hari," pungkasnya.

Penulis: Andrew_Pattymahu
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved