»
Tajuk Tamu
Puasa Punya Asuransi Pahala
Tribun Manado - Sabtu, 21 Juli 2012 14:36 WITA
OPINI RAMADAN
Beruntunglah bagi
mereka yang tahun 2012 ini dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan karena
bagi siapa saja yang khusuk (serius), menjalani ibadah di bulan ini,
maka ia dijamin Punya Asuransi Pahala (puasa).
Bagi mereka yang
percaya, puasa ini akan dapat jadi bekal bagi kehidupan kita semasa
hidup, juga di masa mendatang di akhirat kelak.
Biasa yang
selama ini hanya mengenal duniawi, mengejar banyak investasi materi
seperti Asuransi, Pasar Modal, Emas dan Deposito, mari mulailah berpikir
juga untuk investasi akhirat.
Mencobanya tidak akan celaka,
mencari investasi untuk akhirat tidak akan mengalami kerugian, tidak
butuh modal uang segudang untuk memulai investasi akhirat.
Cukup
sederhana dengan berpuasa khusuk di bulan Ramadan, berkah sehat sentosa
akan diperoleh. Layaknya asuransi, lewat premi puasa, kita akan
terjamin keselamatan keseharian kita dan di masa depan kehidupan
akhirat.
Melalui puasa khusuk, diri kita dapat mengontrol dari
hal-hal negatif. Dengan berpuasa, diri kita dapat menjauh dari sesuatu
perbuatan-perbuatan tercela dan inilah satu di antara ciri orang yang
beriman sebagaimana disinggung dalam Al Quran Baqarah 185:
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa."
Secara
bahasa sendiri, puasa diambil dari kata bahasa arab yang berarti Saum
atau Sauwm, yang artinya menahan atau mencegah. Di Indonesia sendiri,
untuk istilah yang populer dipakai adalah kata puasa, bukan Saum.
Sedangkan
berdasarkan syariat agama Islam, puasa itu menahan diri dari godaan
hawa nafsu dari yang halal, juga yang haram. Inilah uniknya di puasa,
hal-hal yang halal saja bisa jadi haram, apalagi sesuatu yang haram.
Misalkan
contoh kecil, halal yang dilarang di puasa seperti makan dan minum.
Kegiatan ini tidak dapat dilakukan semasa rentang jam puasa karena
apabila perbuatan ini dilakukan maka bisa membatalkan puasa. Kecuali
sudah melewati masa puasa, dapat kita lakukan, sah secara hukum syariat.
Menahan hawa nafsu dalam berpuasa dilakukan dari mulai terbit
fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk
meningkatkan ketakwaan seorang muslim.
Kemanfaatan dan
keberkahan yang dimiliki dalam ibadah puasa di bulan Ramadan melimpah
ruah. Maka dari itu, menyesal, bagi mereka-mereka yang berhalangan
menjalani ibadah puasa satu bulan lamanya.
Apalagi, puasa
Ramadan satu di antara ibadah yang paling spesial. Bukan bermaksud
menghitung-hitung, tapi puasa Ramadan amalan ibadahnya berlipat ganda.
Kita
tidur siang di bulan puasa Ramadan saja dapat pahala, apalagi waktu
yang ada, kita isi dengan sholat dan mengaji pasti luar biasa nilai
ibadahnya.
Belum lagi dari sisi kesehatan, kita akan jadi awet
muda, karena dengan berpuasa kita dapat mengurangi kalori sehingga
bermanfaat dalam mengurangi berbagai kerusakan sel tubuh.
Hal
ini sebagaimana dijelaskan oleh Androlog Universitas Diponegoro Semarang
Prof Susilo Wibowo sebagaimana dilansir oleh situs berita
tribunnews.com.
Ia mengungkapkan, berpuasa bisa memperlambat
efek penuaan karena dapat mengurangi kalori yang bermanfaat mengurangi
berbagai kerusakan sel tubuh.
“Puasa dikenal dalam berbagai
ajaran agama. Ini benar-benar menyehatkan, dilakukan karena bisa
mengurangi kerusakan berbagai sel akibat oksidan karena hasil pembakaran
makanan,” katanya di Semarang.
Karena itu, bagaimana untuk
peroleh puasa yang benar, mencapai tingkatan yang sempurna. Sudah lama
Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan yaitu Puasa ‘Aam
sering disebut puasa umum atau orang awam. Jenis puasa ini sebatas
menahan diri dari makan, minum, hubungan biologis.
Sementara
berikutnya, Puasa Khusus yakni seperti puasa ‘Aam, tetapi tambahnya,
menahan semua alat indera dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti
perbuatan yang kurang baik, kurang pantas, yang menyinggung atau
menyakiti orang lain, atau yang sia-sia dan tak berguna.
Berikutnya,
Puasa Khususil Khusus atau puasa istimewa terkhusus ada tambahan dengan
puasa hati. Jenis puasa tingkatan ini menghindari dari memikirkan,
mengkhayalkan atau membayangkan hal-hal yang sifatnya hedonisme duniawi.
Menjalani puasa berarti juga kita mampu melebur ke semua
lapisan masyarakat termasuk warga akar rumput. Merasakan bagaimana
menjadi orang yang hidup sederhana, bahkan masuk kedalam kehidupan orang
yang penuh keterbatasan materi.
Ada beberapa orang yang kurang
beruntung, untuk memenuhi makan dalam keseharian teramat sulit. Sehari
saja ada yang hanya makan sehari, itu pun kalau ia mujur sedang
memperoleh rezeki.
Melalui puasa, kita pun dapat rasakan
bagaimana orang yang hidup hanya makan seadanya penuh berkecukupan. Dari
sinilah, rasa solidaritas kebersamaan kita tumbuh.
Bangsa dan
negara kita sekarang sedang mengalami krisis solidaritas, masing-masing
memperkuat egonya demi kesenangan pribadi maupun kelompoknya. Lewat
puasa kita dapat belajar menumbuhkembangkan sikap solidaritas satu rasa
dalam kebersamaan.
Dimensi ini akan menjadikan kehidupan kita
lebih bernilai sosial, karena di puasa dianjurkan kita beramal sedekah.
Menyisihkan kelebihan kita untuk ditransfer, kepada kaum-kaum yang
kurang beruntung.
Tidak ada cerita orang bersedekah akan jatuh
hina, miskin dan tertindas. Sebaliknya, orang memberi belas kasih akan
masuk sebagai orang yang bermartabat berbudi luhur. Membudayakan
sedekah, maka otomatis turut serta menciptakan penegakan keadilan
sosial.
Kita punya cahaya ilmu terang benderang sedekahkan
kepada orang yang masih dalam keadaan gelap gulita. Kita memiliki harta
berlebih, berbagilah kepada kaum yang tidak berpunya miskin harta, agar
ada sebuah tenaga beli yang kuat, mampu menjalankan roda ekonomi bangsa.
Bapak bangsa kita, Mohammad Hatta, dalam karya Beberapa Fasal
Ekonomi: Djalan ke Ekonomi dan Pembangunan (1960), menjelaskan, "Kalau
rakyat sangat miskin, tenaga buat membeli tidak ada, sehingga pasar
pertukaran barang-barang industri dalam negeri sangat sempit."
Memberi
ikhlas berarti melancarkan alur sistem kehidupan dan menciptakan sebuah
kedamaian masyarakat yang penuh cinta kasih. Langkah ini dapat
diperoleh melalui puasa yang mampu menjadi media kita untuk belajar
menjadi orang yang penghasih dan penyayang.
Itulah hakikat dalam
beragama Islam yang sesungguhnya. Jangan sampai kita buta akan hakikat
berislam itu apa. Mantan Wakil Presiden kita, Mohammad Hatta pernah
bercerita dalam sebuah karyanya, Islam dan Masyarakat (1955).
"Ibadat
dan perbuatan orang Islam di atas dunia hendaklah sesuai dengan
sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan yang Maha Esa: Pengasih dan
Penyayang serta Adil dan selalu berdiri sendiri di atas jalan yang
benar. Penjelmaan dari sifat pengasih dan penyayang Tuhan itu ialah
persaudaraan. Persaudaraan antara orang sebangsa dan antara segala
bangsa. Betapa juga besarnya perbedaan paham antara seseorang dengan
seorang, antara partai dengan partai tentang berbagai masalah hidup,
persatuan bangsa tetap terpelihara, rasa persaudaraan tetap berkuasa.
Selanjutnya persaudaraan segala bangsa hendaklah menjadi tujuan. Hanya
di atas persaudaraan itulah bisa tercapai rukun dan damai dalam
pergaulan internasional."
Itulah intisari dari berislam dalam
pengertian Mohammad Hatta, pria kelahiran Bukit Tinggi, 12 Agustus 1902.
Curahan religuitasnya mampu memberikan pencerahan akan posisi apa itu
Islam yang sesungguhnya. Mungkin kita selama ini hanyalah mengenal Islam
itu sebuah aturan kehidupan bagi umat manusia yang diturunkan oleh
Allah melalui Muhammad SAW.
Tapi secara sadar atau tidak,
banyak yang belum paham, karena sebagian besar banyak yang lupa dan
bahkan mirisnya, ada yang sengaja tidak menjalankan aturan-aturannya
(syariat). Oleh karenanya, melalui puasa di bulan Ramadan secara khusuk,
dapat jadi ajang pembuktian bahwa kita sedang berislam yang benar.
Selamat berpuasa, semoga keberkahan dan kerahmatan menghampiri kita,
amin ya robal alamin.(Sumber:www.budisusilo85.blogspot.com)
Penulis : Budi_Susilo
Editor : Andrew_Pattymahu