Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Pasar

Era HP Murah China Terancam Berakhir, Harga Smartphone Diprediksi Makin Mahal

Era keemasan smartphone murah buatan China dengan iming-iming "spesifikasi tinggi, harga murah" kini sedang berada di ujung tanduk.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Kolase Tribun Manado/Istimewa
HP CHINA - Era HP Murah China Terancam Berakhir, Harga Smartphone Diprediksi Makin Mahal. Lonjakan harga komponen akibat booming kecerdasan buatan (AI) serta ketegangan geopolitik membuat biaya produksi melonjak, sehingga harga smartphone diprediksi ikut naik dan perangkat murah kian sulit ditemukan di pasaran.  

Lembaga riset TrendForce mencatat, harga DRAM (memori utama/RAM) meroket hingga 90-95 persen hanya dalam satu kuartal. Sementara harga NAND flash (memori penyimpanan internal) melonjak 55-60 persen di periode yang sama.

Situasi makin mencekam bagi pabrikan kecil, karena laporan industri menyebut harga DRAM kini bisa berubah dalam hitungan jam.

Hal ini terjadi karena pabrikan kecil umumnya tidak memiliki kontrak pasokan harga tetap (fixed) jangka panjang, seperti Apple atau Samsung.

Ratusan ribu pabrikan ponsel skala menengah ke bawah kini harus bertarung berdarah-darah memperebutkan sisa "remah-remah" pasokan cip memori yang harganya selangit.

Harga komponen naik, margin lenyap

Bagi pabrikan ponsel China, seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor, strategi bisnis mereka selalu bertumpu pada margin keuntungan yang sangat tipis untuk bisa menekan harga jual.

Namun, ketika harga komponen seperti memori melambung, margin tipis itu langsung menguap tak bersisa.

Laporan industri mengungkap, beberapa model ponsel kelas menengah generasi terbaru di China terpaksa dijual lebih mahal sekitar 100 hingga 600 yuan (kenaikan harga berkisar 20 persen) dibanding generasi sebelumnya demi menutupi ongkos produksi.

Selain krisis chip memori, industri juga dihantam tensi geopolitik. Kasus perebutan kendali produsen cip Nexperia menjadi contoh nyata.

Pemerintah Belanda secara paksa mengambil alih kendali Nexperia, pemasok chip komponen otomotif penting, dengan alasan keamanan nasional, menyusul kekhawatiran karena perusahaan tersebut dimiliki oleh Wingtech asal China.

Konflik politik semacam ini memicu pembatasan ekspor dan semakin memecah belah rantai pasok global yang sebelumnya terintegrasi dengan baik.

Tekanan ganda berupa inflasi komponen dan konflik geopolitik ini perlahan mulai memakan korban.

Produsen smartphone China skala kecil, Meizu, dilaporkan telah menyerah dan menghentikan pengembangan perangkat baru serta menarik seluruh ponselnya dari toko online.

Lembaga riset IDC melabeli kondisi suram ini sebagai "structural reset", sebuah perubahan mendasar dalam struktur industri smartphone.

Selama bertahun-tahun, ponsel murah menjadi pahlawan yang menghubungkan miliaran manusia ke internet. Kini, era "HP murah" khas pabrikan China itu tampaknya sedang bersiap menghadapi masa paling kritis dalam sejarahnya.

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved