Breaking News
Jumat, 22 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Wartawan

Saat Mobil Tahanan Dipanaskan

Hanya perlu Rabu yang biasa untuk membawa Bupati Sitaro Chintya Kalangit ke dalam sel tahanan. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Ventrico Nonutu
Tribun Manado/-
CATATAN WARTAWAN - Mobil Tahanan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara. 

TAK perlu menanti Jumat keramat. 

Hanya perlu Rabu yang biasa untuk membawa Bupati Sitaro Chintya Kalangit ke dalam sel tahanan. 

Rabu (6/5/2026) berjalan seperti biasanya.

Mentari bersinar cerah. Langit biru dan putih tanpa mendung.

Terik menerpa segala yang ada di atas bumi, termasuk di lobi ruang Kejaksaan Tinggi Sulut, tempat saya mangkal Rabu itu. 

Momen khusus biasanya ditandai dengan masuknya WA dari pihak tertentu. "Tunggu di lobi,".

Tapi WA itu tak ada. 

Saya berada di sana hanya untuk habiskan waktu. 

Tanpa sama sekali pengharapan adanya sesuatu yang besar pada hari itu. 

Saya kira teman lain pun demikian. 

Lepas makan siang, seorang saksi datang ke kantor Kejaksaan untuk diperiksa. Tapi suasana tetap datar. 

Jelang sore, mobil milik Bupati yang parkir di halaman depan kantor Kejati mulai dipanaskan. 

Sesaat kemudian, mobil itu bergerak, siap-siap merapat ke depan lobi untuk menjemput tuannya yang telah jalani pemeriksaan dari pagi. 

Tapi Bupati tak turun. Dan mobil itu parkir lagi. 

Hampir bersamaan dengan itu, deru mesin terdengar dari mobil tahanan yang parkir samping lobi. 

Mobil berwarna hijau itu mendadak dipanaskan. 

Itulah kode alam tentang kejutan besar hari itu. 

Ketika mobil itu parkir depan lobi, kami pun menebak-nebak. 

Siapa yang bakal ditahan. Ada empat orang diperiksa.

Umumnya kami menebak yang akan ditahan adalah orang ketiga dan empat. 

Ternyata kami salah. Yang muncul adalah orang pertama. 

Bupati Sitaro terlihat mengenakan rompi merah muda.

Wajahnya campuran antara kesedihan, kebingungan, rasa tak percaya, ketakutan serta kehancuran. 

Saat digiring, langkahnya pelan seolah itu semua hanya mimpi. 

Wajahnya menunduk. 

Tampak Kalangit berupaya menahan air mata yang hendak jatuh. Semuanya terjadi begitu cepat. 

Saya menulis berita penahanan itu dengan pikiran yang belum dapat sepenuhnya mencerna apa yang terjadi. 

Dan juga rasa iba campur prihatin. 

Chintya, Bupati yang baru setahun dilantik, dari partai penguasa pula, harus menerima kenyataan pahit dengan menghuni sel tahanan Melendeng karena dugaan kasus korupsi penyaluran dana siap pakai kepada korban bencana gunung ruang. 

Publik, terutama di Sitaro, dilanda shock.

Sudah lama mereka menanti pemimpin yang dapat membawa kemajuan di daerah tersebut. 

Datangnya Chintya bak datangnya sang Godot - sang penyelamat. 

Kesan pertamanya begitu menggoda. 

Ia sering turun ke bawah menjumpai masyarakat. 

Perlahan, Chintya berhasil menggenggam hati rakyat. 

Tapi petaka itu membuat harapan warga hancur berkeping-keping. 

Dengan tangis mereka berupaya menyusun kembali kepingan tersebut.

Sambil bertanya "Siapakah lagi yang harus kami nantikan".

Rabu (13/5/2026) Kalangit muncul lagi di kantor Kejati untuk jalani pemeriksaan. 

Ia tak lagi bingung dan canggung. Tapi menyala. Kata-katanya retoris.

"Saya bisa dipenjara, tapi kebenaran tidak," katanya. 

Dunia mendadak jadi cinta dan benci. 

Banyak yang membela Kalangit.

Mereka menyebut ia hanya korban.

Kejaksaan pun dituding cacat dengan mengenakan hasil audit yang tak sesuai.

Bersamaan dengan kemunculan surat dari penjara, narasi-narasi pro Kalangit pun bertebaran di medsos. 

Di sisi lain, ada pula pihak yang mengecam, bahkan mengutuk.

Kata-kata hujatan diberikan dengan tidak memperhatikan asas praduga tak bersalah.

Dua hal ini merupakan cermin kegagalan kita dalam merespon persoalan hukum.

Publik selalu menghujat tersangka Koruptor. Keluarganya ikut disetankan.

Sebaliknya kita sering pula terjebak dalam drama yang menyanjung tersangka, seolah ia adalah yang sengaja disingkirkan.

Mirip dracin kita berharap dirinya pada suatu momen akan bebas dengan dramatis dan hidup bahagia selamanya.

Hal terbaik yang mungkin kita lakukan adalah mendoakan Kalangit agar diberi kekuatan dan ketabahan, agar supaya ia selalu mengandalkan Tuhan dalam suka duka.

Juga doakan agar Jaksa, Hakim, Pengacara menjalankan tugasnya dengan baik di pengadilan.

Disanalah medan pertempuran sesungguhnya.

(Arthur Rompis)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved