Opini
Sakralitas Takbiran: Antara Syiar dan Kemungkaran
Takbiran adalah wujud syukur, pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT, tanda kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Ringkasan Berita:
- Takbiran adalah salah satu wujud syukur, pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT, dan tanda kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
- Lantunan takbir menekankan kerendahan hati manusia serta menghapus kesombongan, sisi manusia tampak kecil karena hanya Allah yang Maha Besar.
- Inilah momen refleksi diri, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat persaudaraan.
Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I
(Pengawas PAI Kemenag Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado, Wakil Sekretaris PW PERGUNU Prov. Sulut)
Takbiran adalah salah satu wujud syukur, pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT, dan tanda kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Lantunan takbir menekankan kerendahan hati manusia serta menghapus kesombongan, sisi manusia tampak kecil karena hanya Allah yang Maha Besar.
Inilah momen refleksi diri, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat persaudaraan.
Takbiran adalah sebuah gema kemenangan.
Dia bukan sekadar lantunan kalimat “Allahu Akbar” semata, melainkan simbol spiritual atas keberhasilan umat Islam menundukkan hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Dalam tradisi keislaman, malam takbiran menjadi momentum sakral yang sarat makna: mengagungkan Allah, mensyukuri nikmat Allah, dan meneguhkan kembali komitmen ketakwaan kepadaNya.
Allah SWT memberikan penegasan dalam Q.S. al-Baqarah ayat 185: "...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."
Kondisi realitas sosial hari ini yang terjadi, sakralitas takbiran seringkali mengalami pergeseran makna.
Di banyak tempat, gema takbir yang seharusnya khusyuk dan penuh penghayatan berubah menjadi hiruk-pikuk yang cenderung kehilangan ruh ibadah.
Takbiran keliling, yang pada dasarnya merupakan bagian dari syiar Islam, tidak jarang justru ternodai oleh perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Campur aduk tanpa peduli dengan etika lagi.
Fenomena konvoi kendaraan dengan suara bising –knalpot racing, speaker super besar-, penggunaan petasan dan kembang api yang berlebihan, hingga aksi ugal-ugalan di jalan raya telah menjadi potret yang selalu berulang pada setiap tahunnya.
Bahkan, tidak sedikit orang yang menjadikan malam takbiran sebagai ajang hura-hura, bercampur dengan tindakan yang mengarah pada kemungkaran -mulai dari pelanggaran ketertiban hingga perilaku yang jauh dari adab dan etika pergaulan Islami.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/SOSOK-Supriadi-SAg-MPdI-Supriadi-adalah-Pengawas-PAI-Kemenag-Kota-Manadolo9.jpg)