Gempa Bumi di Sulut
Pasca Gempa, Warga Matutuang Sangihe Masih Trauma dan Tak Berani Tidur di Rumah yang Rusak
Dampak gempa guncang wilayah Kecamatan Marore masih dirasakan warga Kampung Matutuang.
Penulis: Eduard Joanly Tahulending | Editor: Dewangga Ardhiananta
Ringkasan Berita:
TRIBUNMANADO.CO.ID, SANGIHE - Dampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Kecamatan Marore masih dirasakan warga Kampung Matutuang, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Sejumlah warga mengaku masih diliputi rasa takut dan trauma, terutama mereka yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa.
Salah satunya adalah Armelin Suku (31), warga Matutuang, yang hingga kini belum berani kembali tidur di rumahnya karena khawatir akan terjadi gempa susulan.
Dalam wawancara dengan Tribun Manado, Jumat (12/6/2026), Armelin mengaku kepanikan langsung menyelimuti dirinya saat gempa terjadi.
"Pertama tentunya panik. Panik dicampur rasa takut karena memang sangat kuat itu gempa. Makanya sampai saat ini masih terasa takut, trauma, dan tidak bisa tidur di dalam rumah karena rumah sudah hancur," ungkapnya.
Saat ini, Armelin memilih mengungsi dan bermalam di rumah kerabatnya demi alasan keamanan.
"Kalau sekarang saya tidur di rumah ipar karena tidak bisa tidur di sini, masih takut," katanya.
Terkait bantuan bagi warga terdampak, Armelin mengaku hingga saat ini dirinya belum menerima bantuan kebutuhan pokok.
"Kalau untuk saat ini belum ada bantuan," ujarnya.
Meski demikian, Armelin menyambut baik kedatangan Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, Wakil Bupati Tendris Bulahari, serta jajaran Forkopimda yang melakukan kunjungan ke wilayah terdampak gempa.
Ia berharap kehadiran pemerintah daerah dapat memberikan perhatian sekaligus membantu meringankan beban masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit pascabencana.
"Harapannya bisa sedikit meringankan beban yang kami alami, terlebih supaya bisa melihat bagaimana kondisi yang kami alami karena dampak dari gempa yang telah terjadi," tuturnya.
Kunjungan pemerintah daerah tersebut dilakukan untuk meninjau langsung kondisi warga serta menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana gempa di wilayah kepulauan terluar Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Jarak Kecamatan Marore ke Tahuna, ibu kota Sangihe sekitar 170 kilometer atau setara dengan 77 mil laut.
Transportasi menggunakan kapal cepat membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan.
Sementara akses menggunakan kapal penumpang umum/perintis waktu tempuh sekitar 17 jam hingga 2 hari, tergantung kondisi cuaca dan gelombang laut selama pelayaran.
(TribunManado.co.id/Edu)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
| Pascagempa Magnitudo 7.7, Warga Matutuang Sangihe Berharap Bantuan Perbaikan Rumah dari Pemerintah |
|
|---|
| Gempa Baru Saja Terjadi di Sulawesi Utara Pagi Ini Jumat 12 Juni 2026, Berikut Info BMKG |
|
|---|
| Gempa Bumi di Sulawesi Utara Kamis 11 Juni 2026 Malam, Info BMKG Pusatnya Kedalaman 10 Km |
|
|---|
| Gempa Baru Saja Guncang di Sulawesi Utara Sore Ini Kamis 11 Juni 2026, Info BMKG Magnitudo 5,6 |
|
|---|
| Gempa Bumi Kembali Terjadi di Sangihe, BMKG: Berjarak 145 kilometer dari Tahuna |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dampak-gempa-yang-mengguncang-wilayah-Kecamatan-Marore-masih-dirasakan-warga.jpg)