Catatan Seorang Jurnalis
Sudut Oranje di Manado
Minahasa di masa lalu sangat dekat dengan Belanda. Saking dekatnya, sempat akan dijadikan provinsi ke - 12
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Minahasa di masa lalu sangat dekat dengan Belanda. Saking dekatnya Minahasa, termasuk di dalamnya Manado, sempat akan dijadikan provinsi ke - 12 Belanda.
- Namun bangsa Minahasa akhirnya lebur ke Indonesia.
- Pahlawan pahlawan asal Minahasa termasuk yang paling gigih membela republik. Namun warna Belanda tetap sulit terhapus dari Manado.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Minahasa di masa lalu sangat dekat dengan Belanda.
Saking dekatnya Minahasa, termasuk di dalamnya Manado, sempat akan dijadikan provinsi ke - 12 Belanda.
Namun bangsa Minahasa akhirnya lebur ke Indonesia.
Pahlawan pahlawan asal Minahasa termasuk yang paling gigih membela republik. Namun warna Belanda tetap sulit terhapus dari Manado.
Dari klapertart, sebutan mner untuk guru atau Noni untuk wanita serta timnas Belanda.
Yang terakhir ini tak bisa dibendung pada musim Piala Dunia.
Jelang Piala Dunia 2026, bendera Belanda mulai laku di sentra penjualan bendera negara peserta Piala Dunia.
Mungkin sebentar lagi, bendera merah, putih, biru akan mengangkasa meski tanpa lagu Wilhelmus Van Nassau.
Salah satu sudut Belanda di Manado adalah Sindulang 1.
Saya pernah melakukan reportase di sama selama Piala Dunia Qatar 2022.
Setiap Piala Dunia, lokasi tepi pantai di Kelurahan Sindulang 1 lingkungan 1, Kecamatan Tuminting, kota Manado, provinsi Sulut akan berubah jadi merah, putih dan biru.
Bendera Belanda ada di mana mana.
Dari tepi pantai, lorong hingga rumah penduduk.
Pun jelang Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sebuah bendera Belanda berukuran tujuh kali empat meter terpasang di tepi pantai.
Di bawah bendera itu, berdiri sebuah pondok yang dijadikan markas para fans Belanda di tempat itu.
Ya, banyak warga Kelurahan Sindulang 1 lingkungan 1 yang mengidolakan timnas Belanda.
Hubungan warga dengan Belanda tak hanya sebatas kekaguman.
Tapi sudah mendarah daging.
Beberapa warga disini ternyata masih keturunan Belanda.
Sanak mereka masih berada di Belanda dan hubungan berlangsung dengan sangat baik. Robert Tawaris (62) salah satu warga mengaku neneknya yang masih turunan Borgo Belanda menikah dengan warga Suriname.
"Oma bermukim di Suriname namun sudah meninggal," katanya.
Sebut dia, sang Oma selama masih hidup kerap berkunjung ke Manado. Omanya melancong ke Bunaken.
"Sebelum pulang oma selalu beri kami uang," katanya.
Dia membeber, sang Oma mengongkosi pernikahan Robert dan 11 saudaranya dengan uang Belanda Gulden.
Sang Oma, beber dia, selalu berupaya agar cucunya tak lupa dengan Belanda.
"Salah satunya timnas, Oma selalu minta kami dukung timnas Belanda, karena itu kami dukung mati matian timnas Belanda," katanya.
Robert menatap piala Dunia kali ini dengan optimistis.
Sebut dia, sudah waktunya Belanda tak hanya menghibur, tapi menjadi jawara.
"Komposisi tim lebih baik, ada Frankie De Jong di tengah, kemudian Van Dijk dan Mathijs de Ligt di belakang dan di depan ada Memphis Depay dan striker muda Cody Gakpo," katanya.
Asman (73) ketua Fans Belanda di Sindulang, izin bertukar pakaian dulu sebelum diwawancarai tribunmanado.
Ia kembali dengan jaket Oranye.
Dia menunjukkan bagian belakang jaket.
Di sana ada tanda tangan seorang talent scouting asal Belanda.
Kemudian ia menyambar ponsel. Dan menunjukkan kepada tribunmanado sebuah fotonya mamakai dasi berwarna Oranye.
Dia menuturkan, banyak warga setempat punya marga Belanda.
Ada Antoni, Vanderslot, Lefrand dan lainnya.
"Mereka punya keluarga di Belanda," katanya.
Dia sendiri punya saudara jauh di Belanda. Ayahnya seorang anggota KNIL.
Ungkap dia, kemeriahan memuncak saat Belanda main. Saat itu, ia melukiskan, ibarat pesta.
"Warga bersukaria, nonton bareng, apalagi kalau menang," katanya.
Ia bercerita, pernah Belanda absen piala Dunia.
Dan seisi kampung jadi kampung mati saat piala Dunia.
Demi Belanda, ia tak ragu rogoh kocek dalam dalam.
"Saya keluarkan lima juta untuk pasang bendera," katanya.
Dia beriktiar akan menaikkan bendera Belanda lebih tinggi lagi jika Belanda lolos 16 besar.
Cinta Asman kepada timnas Belanda tak bersyarat.
"Meski mereka kalah kami tetap dukung karena ada kedekatan historis antara kami dengan timnas Belanda," kata dia.
Cinta itu kadang membuatnya nekat. Saat timnas Belanda datang di Indonesia, ia nekat ke Jakarta. Begitupun saat PSV Eindhoven, klub papan atas Belanda tampil di Manado. Ia terhitung yang pertama datang ke stadion.
Ia menyerukan kepada semua keluarga turunan Belanda di Manado agar mendoakan kiprah Frankie De Jong dan kaan kawan di Piala Dunia kali ini.
"Mari kita bawa Belanda dalam doa," katanya. (Arthur Rompis)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/MINAHASA-Minahasa-di-masa-lalu-sangat-dekat-dengan-BelandaUI8900.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.