Berita Nasional
Banyak Lulusan Menganggur, Pemerintah Akan Tutup Prodi yang Tak Dibutuhkan Dunia Kerja
Prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masa depan berpotensi ditutup guna menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Ringkasan Berita:
- Kemendikti Saintek akan menyeleksi dan menutup prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan masa depan.
- Data menunjukkan lulusan kependidikan mencapai 490 ribu per tahun, sementara kebutuhan guru hanya sekitar 20 ribu.
- Pemerintah juga mengingatkan potensi oversupply tenaga tertentu, termasuk dokter, jika prodi tidak disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemerintah bersiap mengevaluasi besar-besaran program studi di perguruan tinggi.
Prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masa depan berpotensi ditutup guna menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Melansir Kompas.com, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek) mengungkapkan rencana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia di masa depan.
• Daftar Nama 23 Pemain yang Dipanggil ke TC Timnas Indonesia, Ada Putra Kawanua Eksel Runtukahu
"Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini," ujar Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026) dikutip dari siaran di Kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Kemendikti akan susun prodi yang dibutuhkan
Badri mengatakan Kemendikti saintek akan menyusun prodi yang dibutuhkan di masa mendatang.
Penentuan tersebut juga akan didasarkan pada kajian-kajian program Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).
Saat ini data statistik pendidikan tinggi, prodi bidang ilmu sosial mencakup 60 persen. Lebih rinci, prodi yang paling banyak adalah kependidikan atau keguruan.
"Kita meluluskan tiap tahun 490.000 dari kependidikan. Sedangkan pada waktu yang sama, lowongan untuk calon guru dan fasilitator di taman kanak-kanak hanya 20.000. Jadi yang 470.000 tidak punya pekerjaan," tutur Badri.
Terus menggaungkan soal bonus demografi
Badri berujar Indonesia saat ini terus menggaungkan soal bonus demografi.
Akan tetapi jika lulusan pendidikan tinggi yang diharapkan bisa mengantar Indonesia menjadi negara maju tidak disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi ke masa depan, maka tidak akan tercapai tujuan itu.
"Kalau bahasa kami saat ini, perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebagian besar ya itu menggunakan market driven strategy. Yang lagi laris apa dibuka gitu prodinya, kemudian oversupply di situ," ungkap Badri.
Ia memberi contoh, berdasarkan data yang diperiksa olehnya, tahun 2028 sebenarnya Indonesia bisa mengalami kelebihan pasokan dokter berdasarkan standar minimal World Bank.
Apalagi bila terjadi maldistribusi atau ketidakseimbangan distribusi di masing-masing daerah.
-
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
| Beli BBM dan Elpiji Pakai MyPertamina Dapat Bonus Rp 100 Ribu, Cek Syaratnya Berlaku hingga 10 Maret |
|
|---|
| Berlaku hingga 10 Maret 2026, Beli BBM dan Elpiji Pakai MyPertamina Bisa Dapat THR, Begini Caranya |
|
|---|
| Daftar Lengkap 31 Kajari yang Dimutasi Jaksa Agung, Tiga Nama Dicopot Usai Diperiksa Kejagung |
|
|---|
| Pemerintah Targetkan 20 Kota Punya Transportasi Massal 2030, Bus BTS Manado Jadi Gambaran |
|
|---|
| Diterpa Isu Soal Tambang, Gubernur Sherly Tegas: Jika Ada Conflict of Interest, Saya Akan Abstain |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Badri-Munir-Sukoco.jpg)