Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jumat Agung

Langit Mendung di Jumat Agung dan Tanda Perenungan Iman

Langit yang muram dianggap selaras dengan peringatan wafat Yesus Kristus di kayu salib sebuah momen duka dan perenungan mendalam.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun Manado
ILUSTRASI - Pemandangan langit Manado yang mendung. Langit Mendung di Jumat Agung dan Tanda Perenungan Iman 

Meski begitu, pengalaman ini bersifat lokal dan tidak selalu terjadi di semua tempat.

Dari sisi ilmiah, tidak ada bukti bahwa Jumat Agung selalu diiringi cuaca mendung atau hujan.

Kondisi cuaca ditentukan oleh faktor atmosfer seperti suhu, kelembapan, tekanan udara, serta letak geografis.

Di Indonesia, Jumat Agung biasanya jatuh pada masa peralihan musim (Maret–April), di mana cuaca cenderung labil dan peluang hujan memang lebih tinggi.

Artinya, kemungkinan langit mendung pada Jumat Agung lebih berkaitan dengan pola iklim, bukan karena faktor religius.

Terlebih lagi, secara global, tidak mungkin semua wilayah mengalami kondisi cuaca yang sama dalam waktu bersamaan.

Meski demikian, di balik perdebatan antara fakta dan persepsi, ada makna spiritual yang tetap kuat.

Langit yang gelap sering dimaknai sebagai simbol duka, perenungan, dan penghayatan atas kasih serta pengorbanan Yesus.

Pada akhirnya, apakah langit cerah atau mendung, esensi Jumat Agung tidak terletak pada cuaca.

Maknanya tetap sama: sebuah ajakan untuk merenungkan kasih, pengorbanan, dan penebusan yang menjadi inti iman.

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved