Minggu, 3 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Seorang Jurnalis

Jumat Agung: Sunyi Salib, Nyata Kasih

Salib menjadi bukti bahwa kasih sejati selalu siap memberi, bahkan ketika harus menanggung penderitaan.

Tayang:
Penulis: Gryfid Talumedun | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun Manado/Gryfid Talumedun
IBADAH - Umat Kristiani di Jemaat GMIM Betlehem Kawangkoan Baru, Minahasa Utara, Sulawesi Utara hari ini, Jumat (3/4/2026), melaksanakan ibadah Jumat Agung dengan penuh khidmat dan suasana reflektif. Jumat Agung: Sunyi Salib, Nyata Kasih 

JUMAT AGUNG kembali hadir sebagai momen hening penuh makna bagi umat Kristiani.

Bukan sekadar peringatan, hari ini mengajak kita merenungkan kasih, pengorbanan, dan penebusan sebagai inti iman.

Firman Tuhan dalam Ibrani 10:10 menegaskan bahwa kita telah dikuduskan satu kali untuk selamanya melalui pengorbanan Yesus Kristus.

Artinya, salib bukan peristiwa biasa, melainkan karya kasih yang sempurna untuk menghapus dosa manusia.

Hal yang sama ditegaskan dalam Yohanes 3:16, bahwa kasih Allah begitu besar, hingga Ia mengaruniakan Anak-Nya demi keselamatan manusia.

Kasih itu bukan sekadar kata, tetapi nyata dalam pengorbanan.

Salib menjadi bukti bahwa kasih sejati rela memberi, bahkan dalam penderitaan.

Jumat Agung mengingatkan bahwa penebusan bukan hanya konsep, tetapi kenyataan yang memberi harapan baru.

Dosa ditebus, pengampunan dibuka, dan hidup dipulihkan.

Tahun ini, Jumat Agung terasa lebih personal bagi saya.

Di tengah rutinitas sebagai jurnalis yang terbiasa mengejar peristiwa, momen ini menjadi ruang hening untuk merenung.

Saat firman dibacakan, saya tersadar pengorbanan itu sudah tuntas, kasih itu tidak bersyarat.

Di lapangan, saya sering melihat konflik dan sisi gelap kehidupan.

Namun Jumat Agung mengingatkan, di balik semua itu selalu ada kasih yang tidak menyerah.

Pesannya sederhana namun dalam.

Kasih sejati hadir dalam pengorbanan, dan pengampunan adalah kekuatan.

Jumat Agung bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang hari ini.

Tentang manusia yang masih bergumul, namun tetap diberi kesempatan untuk berubah.

Sebagai jurnalis, saya mungkin tidak bisa mengubah dunia lewat sebuah tulisan saja.

Tapi saya bisa mulai dari hal kecil menulis dengan empati, melihat dengan hati, dan menghadirkan kebenaran tanpa melukai.

Pada akhirnya, Jumat Agung mengajak kita tidak hanya mengenang, tetapi menghidupi makna salib.

Kasih bisa hadir dalam hal sederhana.

Yaitu mengampuni, menolong, dan peduli.

Sebab dari salib lahir pengharapan.

Dan dari penebusan, manusia dipanggil untuk hidup dalam kasih. (Gryfid Joysman)

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved