Rabu, 3 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Public Service

Jalan Rusak di AJ Purukan Minut Diduga Jadi Ladang Cuan, Pengendara Ngeluh: Setiap Hari Ditambal

Setiap hari, pengendara yang melintas di ruas jalan AJ Purukan Minut tersebut harus menghadapi situasi tak biasa.

Tayang:
Penulis: Indry Panigoro | Editor: Indry Panigoro
Tribun Manado/Indri Panigoro
JALAN RUSAK - Potret perbaiki jalan AJ Purukan Minut Sulut, Sabtu 4 April 2026. Keluhan pengendara terhadap kondisi jalan rusak di Jalan AJ Purukan, Desa Matungkas, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), semakin memuncak.  

Ringkasan Berita:
  • Pengendara di Jalan AJ Purukan Minut Sulut resah karena jalan rusak tak kunjung diperbaiki dan aktivitas tambal jalan justru mengganggu lalu lintas.
  • Warga menutup sebagian jalan saat menambal lubang dan diduga meminta sumbangan kepada pengendara, memicu ketidaknyamanan serta persepsi negatif.
  • Pengendara meminta pemerintah segera turun tangan, melakukan perbaikan menyeluruh, dan menertibkan aktivitas yang dinilai meresahkan serta berisiko bagi keselamatan.

TRIBUNMANADO.CO.ID - Keluhan pengendara terhadap kondisi jalan rusak di Jalan AJ Purukan, Desa Matungkas, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), semakin memuncak. 

Bukan hanya soal lubang jalan yang tak kunjung diperbaiki, tetapi juga praktik penanganan swadaya yang diduga dilakukan warga sekitar dinilai justru mengganggu arus lalu lintas.

Setiap hari, pengendara yang melintas di ruas jalan tersebut harus menghadapi situasi tak biasa.

Sejumlah orang terlihat menutup sebagian badan jalan saat melakukan penambalan lubang, bahkan hingga memalang setengah ruas jalan.

Kondisi ini memaksa kendaraan melambat drastis dan menimbulkan antrean, terutama pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari.

Ironisnya, di tengah aktivitas tersebut, beberapa pekerja tampak membawa kardus dan menyodorkannya kepada pengendara yang melintas.

Tak sedikit pengguna jalan yang akhirnya memberikan uang secara sukarela, meski di sisi lain merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut.

Kondisi ini diduga menjadi ladang cuan bagi mereka yang melakukan perbaikan jalan.

“Memang bagus niatnya bantu tutup lubang jalan, tapi kalau sudah setiap hari ditambal dan ada di berbagai titik, ini mengganggu,” ujar Dave, salah satu pengendara kepada wartawan Tribunmanado.co.id, Sabtu (4/4/2026).

Pengerjaan jalan secara swadaya ini disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa kejelasan kapan akan ditangani secara resmi.

Situasi ini menimbulkan persepsi negatif di kalangan masyarakat.

Niat baik warga untuk memperbaiki jalan dinilai mulai bergeser, bahkan dianggap seperti memanfaatkan kondisi jalan rusak untuk memperoleh keuntungan.

"Kalau dihitung-hitung mungkin sudah bertahun-tahun ini pengerjaan seperti ini. Hari ini ditambal, besok di tambal, lusa juga dan setiap hari begitu terus," keluh Dave.

Pengendara pun mendesak pemerintah dan instansi terkait agar segera turun tangan.

Mereka berharap perbaikan dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasi, bukan tambal sulam yang berkepanjangan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved