Rabu, 27 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Publik Service

Halte Bus Jalan Kairagi-Mapanget Manado Dikeluhkan Warga, Tak Ada Tempat Berteduh: Kalau Hujan Basah

Tidak ada atap, tempat duduk, maupun fasilitas dasar lain yang seharusnya tersedia di sebuah halte angkutan umum.

Tayang:
Penulis: Indry Panigoro | Editor: Indry Panigoro
Tribun Manado/Indry Panigoro
HALTE - Potret halte bus di Jalan Kairagi-Mapanget, Kota Manado, yang kini hanya menyisakan papan pemberhentian tanpa atap dan fasilitas bagi penumpang, Sabtu (23/5/2026). Ironisnya, halte ini berada di jalur utama penghubung pusat kota menuju Bandara Sam Ratulangi dan dilalui Bus Trans Manado. 

Ringkasan Berita:
  • Halte bus di Jalan Kairagi-Mapanget, Manado, dikeluhkan warga karena hanya tersisa papan “STOP” tanpa atap maupun tempat berteduh.
  • Saat cuaca panas membara, penumpang terpaksa menunggu kendaraan di bawah terik matahari dan kehujanan saat hujan turun.
  • Kondisi ini dinilai ironis karena jalur tersebut merupakan akses utama penghubung pusat Kota Manado menuju Bandara Sam Ratulangi dan dilalui Bus Trans Manado yang sedang berkembang.

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Di tengah tren pengembangan layanan Bus Trans Manado atau juga yang lebih dikenal dengan Trans Bus Buy The Service (BTS) sebagai transportasi publik andalan masyarakat, kondisi halte di ruas Jalan Kairagi-Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) justru memprihatinkan. 

Halte yang berada di jalur strategis penghubung pusat Kota Manado menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi dan sebaliknya itu kini hanya menyisakan papan penanda tanpa fasilitas pelindung bagi penumpang.

Pantauan wartawan Tribunmanado, Indri Panigoro, Sabtu (23/5/2026), di lokasi hanya terlihat rambu bertuliskan “STOP” sebagai tanda pemberhentian bus.

Tidak ada atap, tempat duduk, maupun fasilitas dasar lain yang seharusnya tersedia di sebuah halte angkutan umum.

Akibatnya, masyarakat yang menunggu kendaraan umum maupun Bus Trans Manado harus berdiri di bawah terik matahari.

Kondisi ini dikeluhkan warga karena halte tidak lagi menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat berteduh dan ruang tunggu yang layak bagi penumpang.

“Kalau panas ya kepanasan, kalau hujan langsung basah. Padahal ini jalur ramai dan banyak orang tunggu kendaraan di sini,” ujar seorang warga di sekitar lokasi.

Ironisnya, ruas Jalan Kairagi-Mapanget merupakan salah satu akses vital di Kota Manado.

Selain menjadi jalur penghubung menuju Bandara Sam Ratulangi, kawasan tersebut juga setiap hari dilalui pekerja, mahasiswa, pelajar, hingga wisatawan yang memanfaatkan transportasi umum.

Warga menilai kondisi halte yang terbengkalai bertolak belakang dengan upaya pemerintah mendorong penggunaan transportasi publik modern melalui layanan Bus Trans Manado.

Menurut mereka, peningkatan armada dan promosi transportasi umum seharusnya dibarengi dengan pembenahan fasilitas pendukung di lapangan.

“Bagaimana masyarakat mau nyaman naik transportasi umum kalau fasilitas dasarnya saja tidak diperhatikan. Halte seharusnya jadi tempat aman dan nyaman untuk penumpang,” kata warga lainnya.

Selain dinilai tidak nyaman, kondisi tersebut juga dianggap berisiko bagi keselamatan pengguna jalan.

Karena tidak memiliki area teduh, sebagian warga memilih berdiri terlalu dekat dengan badan jalan atau berteduh seadanya di bawah pepohonan dan tiang listrik saat menunggu kendaraan.

Keluhan ini pun menjadi sorotan terhadap kualitas pelayanan fasilitas publik di Kota Manado.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved