Breaking News
Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Perenungan GMIM Minggu ini, Kasih yang Nyata Bukan Sekadar Perkataan dan Status di Medsos

Pada Minggu berjalan ini, warga GMIM diajak merenungkan firman Tuhan berdasarkan nas I Yohanes 3:11-18.

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Indry Panigoro
Tribun Manado/Tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa
GMIM - Ibadah Jemaat GMIM Imanuel Bahu, Manado Minggu 26 April 2026 sesi kedua (mulai pukul 09.00 WITA). Warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) masih memaknai masa-masa sesudah Paskah.  

Ringkasan Berita:
  • Tema perenungan GMIM pekan ini menekankan kasih yang diwujudkan lewat tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata, berdasarkan I Yohanes 3:11-18.
  • Pendeta menyoroti masih banyak jemaat rajin beribadah tetapi menyimpan iri, dendam, dan kebencian sehingga tidak mempraktikkan kasih.
  • Fenomena empati di media sosial tanpa aksi nyata dikritik; jemaat diajak menunjukkan kasih lewat tindakan sederhana seperti menolong, mendoakan, dan peduli sesama.

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) masih memaknai masa-masa sesudah Paskah. 

Pada Minggu berjalan ini, warga GMIM diajak merenungkan firman Tuhan berdasarkan nas I Yohanes 3:11-18.

Adapun tema perenungan Minggu ini, yakni Mengasihi dengan Perbuatan dan Dalam Kebenaran. 

Jemaat diajak agar mengaplikasikan kasih secara nyata. Bukan sekadar ucapan di bibir. 

Pdt Juniarto Treivi Kandou MTh mengungkapkan, jemaat jangan hanya mengetahui kasih tapi hambar, yakni tdak mengaplikadikannya secara benar

Sebab, tidak sedikit orang Kristen yang rutin beribadah, rajin ke gereja tapi tidak menerapkan kasih. 

"Mengapa? Masih ada iri, dendam dan kebencian dalam dirinya," kata Pendeta Treivi dalam ibadah Minggu (26/4/2026) Jemaat GMIM Imanuel Bahu sesi kedua, mulai pukul 09.00 WITA. 

Katanya, jemaat yang tidak menerapkan kasih mengikuti jejak Kain yang membunuh saudaranya, Habel. Kain panas hatinya karena menuruti apa kata iblis. 

"Kita bisa saja rajin ke gereja, memberi persembahan tapi masih memelihara kebencian. Itu sama saja tidak ada gunanya. Seharusnya meneladani Kristus, menerapkan kasih," katanya lagi. 

Pendeta Treivi memberikan contoh nyata. Di era media sosial, orang begitu mudah memberi tanggapan bagi sesama pengguna medsos. 

Misalnya, mengetik "Semoga cepat sembuh," "Tuhan memberkatimu". Begitu juga, kita dengan mudahnya mengirimkan stiker virtual. 

"Sayangnya, kita hanya sebatas di medsos, di Facebook, di Instagram. Tidak ada tindakan nyata. Mendoakan, menjenguk saudara kita yang sakit, mengulurkan tangan bagi yang kekurangan," katanya lagi. 

Fenomena empati di dunia maya tapi nihil aksi nyata ini, bukan manifestasi kasih tapi tidak lebih dari kemunafikan. 

"Kasih yang palsus, cuma bicara, slogan, hanya di medsos. Tangan yang selalu terkunci, tidak pernah terbuka dan terulur," ujar pendeta lagi. 

Karena itu, ia mengajak jemaat beraksi bertindak nyata. Sebagai wujud kasih sejati. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved