Jumat, 17 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Kepala SPPG Bunaken–Molas di Manado Buka Suara Terkait Keluhan Orang Tua Murid

“Awalnya memang jalan di 4.000 siswa, karena juknis awal begitu. Tapi kemudian berubah, maksimal hanya 3.000 siswa dan sistemnya juga ikut berubah,”

Penulis: Isvara Savitri | Editor: Isvara Savitri
Tribun Manado/Isvara Savitri
KEPALA SPPG - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bunaken–Molas, Vorianus BT, Kamis (16/4/2026). Ia angkat bicara terkait keluhan orang tua/wali murid mengenai penyaluran MBG Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. 

Ringkasan Berita:
  • Pada awal pelaksanaan program, SPPG Bunaken–Molas melayani hingga 4.000 siswa.
  • Terjadi perubahan kebijakan pada akhir 2025 yang membatasi jumlah penerima manfaat.
  • Hingga saat ini pihaknya masih melayani sekitar 3.800 siswa dari 42 sekolah.

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bunaken–Molas, Vorianus BT, angkat bicara terkait keluhan orang tua/wali murid mengenai penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Vorianus menjelaskan, pada awal pelaksanaan program, SPPG Bunaken–Molas melayani hingga 4.000 siswa sesuai petunjuk teknis (juknis) awal. 

Namun, terjadi perubahan kebijakan pada akhir 2025 yang membatasi jumlah penerima manfaat maksimal hanya 3.000 siswa.

“Awalnya memang jalan di 4.000 siswa, karena juknis awal begitu. Tapi kemudian berubah, maksimal hanya 3.000 siswa dan sistemnya juga ikut berubah,” ujarnya ketika ditemui, Kamis (16/4/2026).

Meski demikian, hingga saat ini pihaknya masih melayani sekitar 3.800 siswa dari 42 sekolah, sehingga terjadi kelebihan beban layanan di luar kapasitas anggaran yang tersedia.

“Saya sadar anggaran hanya untuk 3.000 orang, tapi harus berjalan di 3.800. Itu yang menjadi kendala utama,” katanya.

Keterbatasan anggaran membuat pihaknya harus melakukan berbagai penyesuaian, termasuk memangkas biaya operasional lain untuk dialihkan ke kebutuhan makanan.

“Anggaran untuk pengecekan harga pasar, seperti uang bensin, kami pangkas dan dialihkan ke makanan. Karena yang utama adalah penerima manfaat,” jelas Vorianus.

Selain itu, perubahan juknis juga mengatur waktu produksi makanan yang kini dimulai sejak dini hari untuk menghindari makanan basi.

“Sekarang masak dimulai lewat dari pukul 00.00 Wita. Itu untuk mengantisipasi makanan basi, jadi prosesnya dimajukan,” ungkapnya.

MBG - Menu MBG yang disalurkan di salah satu sekolah di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (16/4/2026). Orang tua murid mengeluhkan kinerja SPPG Bunaken-Molas.
MBG - Menu MBG yang disalurkan di salah satu sekolah di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (16/4/2026). Orang tua murid mengeluhkan kinerja SPPG Bunaken-Molas. (Tribun Manado/Isvara Savitri)

Terkait keterlambatan distribusi yang sempat dikeluhkan, Vorianus mengakui hal tersebut terjadi terutama pada masa awal operasional dapur yang mulai berjalan sejak September 2025.

“Namanya dapur baru, kami masih mencari sistem terbaik supaya penyaluran tepat waktu. Sekarang sudah jauh lebih baik, kalau pun terlambat hanya sekitar setengah jam,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa faktor jarak distribusi turut memengaruhi ketepatan waktu penyaluran. 

Beberapa lokasi sekolah berada di luar radius ideal pengantaran.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved