Sabtu, 9 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

BPJS Kesehatan

7.281 Warga Manado Dihapus dari Penerima Bantuan JKN, Pasien Kronis Sulit Tebus Obat 

Sebanyak 7.281 jiwa warga Manado tidak diperpanjang statusnya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Chintya Rantung
Tribun Manado/Fernando_Lumowa
DIHAPUS - Pelayanan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Manado, Jumat 13 Februari 2026. Sebanyak 7.281 jiwa warga Manado dihapus dari penerima bantuan JKN. 

Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 7.281 jiwa warga Manado tidak diperpanjang statusnya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
  • Ribuan warga ini merupakan peserta JKN segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) Pemda yang iurannya ditanggung Pemerintah Kota Manado
  • Satu di antara ribuan warga itu ialah Agnes Heydemans (54), warga Kelurahan Tumumpa, Kecamatan Tuminting, Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebanyak 7.281 jiwa warga Manado tidak diperpanjang statusnya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Ribuan warga ini merupakan peserta JKN segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) Pemda yang iurannya ditanggung Pemerintah Kota Manado

Satu di antara ribuan warga itu ialah Agnes Heydemans (54), warga Kelurahan Tumumpa, Kecamatan Tuminting, Manado

Agnes mengeluhkan, ia kini bingung karena status kepesertaan JKN-nya tidak aktif. 

Dampaknya, ia tak bisa lagi mengakses pelayanan kesehatan di Puskesmas dan menebus obat secara cuma-cuma. 

Agnes pemegang buku kronis karena menderita hipertensi (tekanan darah tinggi). "Sejak Januari lalu ke Puskesmas, dorang bilang BPJS (Kesehatan) so ndak aktif," kata Agnes. 

Ia memegang buku kronis sekitar tiga tahun terakhir. Selain dia, suaminya yang seorang buruh nelayan sebelumnya merupakan peserta JKN

Keduanya diwajibkan dokter untuk mengonsumsi obat hipertensi dua kali sehari. "Kalau tidak minum obat, pusing," saat ditemui di rumah, Kamis 12 Februari 2026.

Karena BPJS Kesehatannya tidak aktif, Agnes terpaksa mengeluarkan uang untuk menebus obat darah tinggi. 

"Harganya Rp 40 ribu satu strip. Harus minum pagi dan malam," kata Agnes. 

Karena kondisi itu, Agnes kerap bergumul. Biaya hidup otomatis bertambah. 

Di satu sisi ia harus mengutamakan obat. Di sisi lain, ada kebutuhan rumah tangga. 

Sementara, pendapatan keluarga terbatas. Hanya bergantung dari suaminya seorang nelayan tradisional yang pendapatannya tidak menentu. 

"Kalau cuaca bagus, ikan banyak, ya ada. Kalau cuaca buruk, ya tidak ada uang," katanya. 

Ia pun berharap bisa dimasukkan lagi ke daftar penerima bantuan iuran JKN.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved