Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Maria Denok, Memberkati Semarang lewat Tari Rancak Kuntul

Tanggung jawab ini tidak sebatas memanjatkan doa syafaat, tapi juga melakukan aksi nyata demi kesejahteraan kota tempat tinggal

Editor: Sigit Sugiharto
Basuki
Denok bersama para guru PAUD 

Penulis: Basuki

Pada mulanya adalah resah. Pemantik gundah tak lain sebuah ceramah. “Siapa pun kita, tidak peduli profesinya, semua memiliki tanggung jawab terhadap kotanya. Tanggung jawab ini tidak hanya sebatas untuk memanjatkan doa syafaat, tapi juga melakukan aksi nyata demi kesejahteraan kota tempat ia tinggal.”

Panah kata-kata itu menancap dalam di lubuk Maria Denok Bekti  Agustiningrum. Ia terhenyak. Merasa ada kebenaran yang terdedah, wanita kelahiran Bogor, 14 Agustus 1978 ini mulai merenung. Sebuah kaleidoskop segera terhampar. Meski sudah hampir 18 tahun menetap di Semarang, ia melihat masih terlalu sedikit karya yang ia baktikan bagi kotanya.

Denok bersama suami dan putri tercinta
Denok bersama suami dan putri tercinta (Basuki)

“Semarang sudah memberi kami terlalu banyak. Saya boleh mengais rezeki. Suami saya yang seorang pendeta, diizinkan melayani. Anak kami lahir, tumbuh dan besar di sini. Masyarakat menyambut kami dengan hangat. Kami bebas menikmati kekayaan seni, budaya dan alam yang melimpah. Kesadaran inilah yang kemudian membawa saya untuk memikirkan sesuatu yang layak untuk dipersembahkan bagi kota kami, Kota Semarang,” Denok bersoliloqui.

Untuk membuahi tekadnya, Denok yang dosen PG PAUD IKIP Veteran Semarang ini kemudian membatin. Ia tahu Tuhan tidak meminta yang muluk-muluk. Karena merasa diberi talenta menari, ia pun ingin memberkati Kota Semarang lewat sesuatu yang berkait dengan keahliannya, yakni sebuah persembahan kreasi tari anak.

Di hari ulang tahunnya yang ke-39, ide mulai dimatangkan. Denok mulai melakukan riset kecil. Ia amati burung-burung kuntul yang hinggap di enam batang pohon asem yang berdiri kokoh di Srondol, area yang berada persis di depan Markas Banteng Raiders 400 Kodam IV/Diponegoro, Semarang. Selain itu, observasi dilakukan di dekat Bandara Ahmad Yani dan di daerah Rawa Pening, Ambarawa. Denok sengaja memilih burung dari keluarga ardeidae ini karena hewan ini merupakan ikon Kota Semarang.

Denok di tengah para penari Rancak Kuntul
Denok di tengah para penari Rancak Kuntul (Basuki)

Dulu, sebelum habitatnya terancam, populasi burung kuntul di Kota Lumpia ini cukup meruah. Spesies ini biasanya hinggap di pohon-pohon asem yang ada di jalan-jalan protokol. Namun, kini burung berleher dan berkaki panjang dengan bulu dominan putih ini banyak bermigrasi ke timur, selatan dan utara. Ke timur, pindah ke daerah pinggir kota, seperti di Mranggen. Ke selatan ke daerah Rawa Pening. Sementara yang ke barat ke sekitar Bandara Ahmad Yani. Dari literatur diketahui, di dunia ini hanya terdapat enam jenis kuntul. Empat dari enam jenis kuntul tersebut ada di Srondol. “Sayang kalau sampai punah. Karena itu, saya pikir merupakan langkah yang bijak jika anak-anak sejak dini dilibatkan untuk turut serta melestarikannya,” ungkapnya.

HEWAN SEBAGAI TEMA FAVORIT

Merujuk sebuah hasil penelitian, Denok yang sedang menempuh studi S3 di Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini menjelaskan, bagi anak usia dini, satwa merupakan salah satu tema favorit dalam pembelajaran. Di usia emas ini, seluruh kemampuan yang mereka miliki perlu distimulasi dengan maksimal dan tentu saja dengan cara yang benar. “Karena itu, setelah berulang-ulang melakukan pengamatan selama kurang lebih 5 bulan, saya mulai mendapatkan gambaran lengkap perilaku burung kuntul. Ada gerakan mengepakkan sayap, menggerakkan leher, dan mengangkat satu kaki yang sangat khas pada burung ini,” jelasnya.

Selesai mengeksplorasi berbagai gerak tari yang disesuaikan dengan tema, istri Pendeta Iskak Dodie Irawan ini menghubungi dosen musik di Unnes untuk meminta bantuan membuatkan musik pengiring. “Waktu minta tolong membuat iringan, saya mesyaratkan tiga kriteria. Pertama, bunyi-bunyian yang ada mesti berasal dari berbagai alat musik yang dekat dengan anak, seperti: suara tepukan, hentakan kaki, denting gelas, kotekan kayu dan semacamnya. Kedua, irama mesti cocok dengan jiwa anak, yakni dinamis, riang dan ramai. Ketiga, musik harus merepresentasikan tiga etnis yang ada di Kota Semarang, yaitu Jawa, Arab, dan Tionghoa,” tuturnya.

Denok bersama para guru PAUD
Denok bersama para guru PAUD (Basuki)

Mengangkat kearifan lokal, khususnya yang berkait dengan keharmonisan relasi ketiga etnis di Kota Semarang, bagi Denok sangatlah penting. Jejak sejarah perihal hubungan ketiga etnis ini hingga sekarang terlacak terang. Kampung-kampung yang menunjukkan representasi komunitas mereka masih eksis. Katanya, “Di Semarang atas kita masih menemukan kampung Arab dan Pecinan dimana antarwarganya selama berabad-abad hidup rukun berdampingan dengan mayoritas suku Jawa. Bahkan, asimilasi ketiga etnis ini mewariskan peninggalan budaya yang lestari hingga sekarang, salah satunya yakni dugderan.”

Dugderan merupakan festival tahunan yang dipusatkan di daerah Simpang Lima, Semarang. Acara ini dihelat untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan. Istilah dugderan sendiri merupakan onomatope atau tiruan bunyi dari suara bedug “dug” yang ditabuh menjelang shalat maghrib dan riuh bunyi mercon “der” yang dibunyikan saat festival. “Situasi masyarakat Semarang yang guyub rukun berdampingan meski berbeda, masyarakat yang dinamis saling menghargai dalam kegembiraan inilah yang akhirnya mengilhami kata rancak,” urai Denok.

MENDAPAT TANGGAPAN POSITIF

Penggarapan musik memakan waktu kurang lebih tiga minggu. Tiga minggu berikutnya memantapkan gerak tari. Sementara desain kostum hingga selesai menyita sekitar dua mingguan. Bicara soal kostum, Denok berpikir bahan harus mencerminkan corak khas Kota Semarang, misal: motif pohon asem, burung kuntul, Tugu Muda, atau Sam Poo Khong. “Saya ingin lewat tarian ini batik semarangan terus hidup bahkan berkembang. Karena itu, bahan kostum pun saya cari sendiri. Saya pergi ke kampung batik yang ada di Bubakan. Setelah mendapatkan bahan yang sesuai, saya kemudian membawa desain ke tukang jahit. Ada sedikit kesulitan untuk menerjemahkan gambar kostum. Maklumlah karena si penjahit bukan penjahit kostum tari jadi kami perlu menyamakan persepsi berkali-kali,” kenangnya.

Setelah semua selesai, ibu dari Regina Bunga Cinta Iskia ini kemudian langsung mengajarkan Tarian Rancak Kuntul kepada kurang lebih 600 pendidik PAUD. Para guru ini belajar menyelami Tari Rancak Kuntul selama tiga hari berturut-turut di auditorium IKIP Veteran Semarang. Denok tentu saja puas karena tarian buah kreasinya mendapat tanggapan positif.

Gebyar PAUD di halaman Balaikota Semarang, 2 Desember 2017
Gebyar PAUD di halaman Balaikota Semarang, 2 Desember 2017 (Basuki)
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved