Kisah di Balik Kungfu Shaolin, 'Membangunkan' Biksu yang Mudah Ngantuk
Waktu istirahat sebelum pentas di kawasan God Bless Park, Selasa malam, dimanfaatkan para Biksu Shaolin yang rata-rata berusia muda.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Waktu istirahat sebelum pentas di kawasan God Bless Park, Selasa malam, dimanfaatkan para Biksu Shaolin yang rata - rata berusia muda untuk bermain - main.
Permainan mereka mirip permainan gunting, batu dan kertas yang lazim di kalangan anak Indonesia.
Masing - masing melakukan suit.
Yang kalah mendapat hukuman cubit di pipi atau lengan.
Namun pencubit kadang mengalami kesulitan karena dihadang biksu yang dicabut dengan gerakan kungfu.
Ia pun terpaksa menggunakan jurus kungfu pula.
Beberapa biksu lainnya memainkan permainan unik, dengan saling memukulkan kedua telapak tangan, bergantian antara tiga orang.
Mr Li, salah satu pelatih mengatakan, para biksu punya metode pelatihan kungfu dari rutinitas sehari - hari.
Dengan begitu, bermain juga berarti berlatih kungfu.
"Seperti juga menyapu, itu adalah latihan kungfu," kata dia.
Metode kungfu unik ini memang telah berlangsung sejak Shaolin berdiri beberapa abad lalu.
Sejarah menyebut seperti dikutip Tribun dari sejumlah sumber termasuk pihak Shaolin, Shaolin didirikan oleh pendeta buddhis dari India bernama Budidharma (Tamo) pada tahun 495 M.
Kala itu Budidharma melihat kondisi fisik para murid sangat lemah hingga tak sanggup bermeditasi dalam waktu yang lama.
Mereka sering ketiduran, bahkan terkena penyakit.
Maka mulailah ia mengajarkan sejumlah latihan fisik pada para Biksu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/shaolin-melakukan-suit-gunting-batu-dan-kertas-yang-lazim-di-kalangan-anak-indonesia_20180308_073243.jpg)