Sabtu, 30 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah di Balik Kungfu Shaolin, 'Membangunkan' Biksu yang Mudah Ngantuk

Waktu istirahat sebelum pentas di kawasan God Bless Park, Selasa malam, dimanfaatkan para Biksu Shaolin yang rata-rata berusia muda.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUN MANADO/ARTHUR ROMPIS
Shaolin melakukan suit gunting, batu dan kertas yang lazim di kalangan anak Indonesia. 

Latihan tersebut berupa 18 gerakan latihan fisik yang dibawanya dari India.

Delapan belas gerakan itulah yang menjadi dasar beladiri kungfu Shaolin.

Beberapa tahun setelah Tamo wafat, datanglah ahli kungfu bernama Ciok Yen Shang Ren.

Ia mengembangkan 18 gerakan itu menjadi 72 jurus kungfu Shaolin.

Untuk mencari pendekar ahli Kung Fu yang bisa menyempurnakan ilmunya, dia mengembara.

Ketika berada di sebuah kota, ia melihat seorang tua diadang oleh seorang penjahat yang bertubuh kekar.

Penjahat itu memukulnya dengan keras.

Dengan enteng orang tua itu menghindar, lantas melancarkan totokan ke arah dahi si penjahat, yang langsung roboh.

Ciok memperkenalkan diri dan secara jujur menceritakan tujuan pengembaraannya.

Ternyata orang tua itu adalah pendekar bernama Lie yang ahli dalam ilmu mencengkram.

Dengan perantaraan orang tua itu, Ciok dapat berkenalan dengan pendekar Pai.Le Fung yang tanpa tanding saat itu.

Ketulusan hati Ciok Yen Shang Ren dapat mengetuk hati kedua pendekar tersebut, sehingga mereka mau tinggal di kuil Shaolin untuk menyusun suatu ilmu baru berdasar ke 18 jurus Senam Penyehat Tubuh warisan Tatmo Cou Su, ditambah ke-72 jurus Kung Fu Ciok Yen Shang Ren, dan digabungkan dengan ilmu kedua pendekar itu sendiri.

Demikian, akhirnya tercipta 182 jurus Shaolin Kung Fu yang dapat dibagi dalam lima jurus yakni jurus naga, harimau, macan tutul, ular dan bangau.

Dalam sejarah, biara Shaolin pernah dibakar kerajaan yang menentangnya.

Pertempuran terjadi antara Biksu Shaolin dengan 50.000 Tentara Qing bersenjata lengkap dan modern yang dibantu para Lhama Tibet dan Praktisi Pak Mei (White Eyebrow).

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved